PDI Perjuangan menggelar dialog antargenerasi memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda dengan menghadirkan Ahok dan Tom Lembong untuk membahas masa depan Generasi Z. Dalam forum tersebut, Ahok menyoroti pentingnya kebijakan yang mendengar aspirasi warga, sementara peneliti Gustika Jusuf Hatta mengkritik pengabaian data riset serta tren kriminalisasi terhadap suara kritis anak muda di ruang digital.
JAKARTA, Saatini.com - PDI Perjuangan melalui Bidang Pemuda dan Olahraga bersama Millennium Public Pulse 28 menggelar dialog antargenerasi secara spektakuler. Forum meriah ini hadir khusus untuk memperingati momen bersejarah 98 tahun Sumpah Pemuda pada Rabu (28/10/2026).
Acara bergengsi ini menghadirkan jajaran tokoh kondang seperti Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Tom Lembong, Saddam Permana, serta Gustika Jusuf Hatta. M. Syaeful Mujab memandu diskusi panas ini untuk mengulas tuntas nasib serta masa depan Generasi Z.
Ahok secara blak-blakan membagikan pengalaman berharga saat memimpin Jakarta yang memberikan pelajaran sangat penting. Ia mengakui bahwa kebijakan tanpa kajian mendalam serta dialog justru bisa merugikan masyarakat kecil.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mencontohkan proyek relokasi warga ke rumah susun yang sempat mematikan usaha mikro warga. Pembelajaran mahal tersebut mendorongnya mengubah desain rumah susun agar selalu menyediakan tempat usaha yang layak bagi warga.
“Dulu kami pindahkan orang, kami berpikir untuk kebaikan dia, ternyata orang yang tinggal di gang-gang sempit itu dia bisa dagang,” ungkap Ahok.
Ia menegaskan bahwa pejabat publik wajib bertindak sebagai administrator sejati demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Pemimpin masa kini harus mau mendengar serta merespons seluruh pengaduan warga dengan santun.
Peneliti muda Gustika Jusuf Hatta melontarkan kritik pedas terkait tumpukan data riset yang sering diabaikan pejabat. Pengambil kebijakan kerap kali tidak pernah melihat atau memanfaatkan data yang telah terkumpul dengan susah payah.
Gustika juga menolak keras penyetaraan masalah antara Generasi Z dan milenial karena tantangan serta akses teknologi mereka sangat berbeda. Ia menyoroti tekanan hebat di ruang digital serta aksi kriminalisasi yang mengintai anak muda kritis.
“Orang muda ketika kritis bukan hanya dibungkam tapi juga dikriminalisasi,” tegas Gustika dengan lugas.
Ia mengingatkan pemerintah bahwa kelompok muda terdiri dari beragam profesi seperti dokter, peneliti, seniman, hingga wirausaha. Kebutuhan tiap profesi tersebut sangat bervariasi sehingga tidak bisa dipukul rata dengan satu kebijakan instan.
Kreator konten Saddam Permana membongkar habis narasi semu yang menyebut kondisi ekonomi Indonesia sedang baik-baik saja. Ia menilai fenomena warga membeli barang mewah sama sekali tidak mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum.
“Orang yang beli iPhone itu tidak merepresentasikan seluruh ekonomi masyarakat Indonesia,” ujar Saddam penuh penekanan.
Saddam menyoroti pemenuhan hak dasar warga seperti udara bersih serta akses pendidikan yang masih sangat memprihatinkan di daerah. Anak-anak di wilayah Aceh dan Lombok bahkan masih mengalami hambatan besar hanya untuk pergi bersekolah.
Dari sudut pandang ekonomi makro, Tom Lembong mengingatkan bahwa pemuda akan menanggung beban terberat jika perekonomian nasional goyah. Meski demikian, ia meminta Generasi Z tidak menyerah pada rasa pesimisme yang berlebihan.
Tom menegaskan catatan sejarah membuktikan bahwa krisis ekonomi justru sering menjadi pemicu utama lahirnya reformasi besar. Hal tersebut pernah membuktikannya di berbagai negara Eropa serta momen bersejarah Indonesia pasca tahun 1998.
Dialog seru ini menjadi langkah awal dari komitmen rutin Millennium Public Pulse 28 setiap tanggal 28. Gerakan ini bakal terus berlanjut hingga mengawal puncak satu abad Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2028 mendatang. (*)