Saatini AMP
Lifestyle

Bukan Cuma Istirahat, Kurang Tidur Bisa Merusak Otak! Cek Bahayanya

Oleh Gatot Wahyu Handono
Kurang tidur dapat menyebabkan gangguan otak (Foto: Net)

JAKARTA, saatini.com - Tidur kerap dianggap sebagai aktivitas fisik biasa untuk melepas lelah. Padahal, bagi organ otak, tidur merupakan proses krusial untuk melakukan perbaikan (repairing) sel-sel saraf sekaligus memantapkan daya ingat dan memori jangka panjang.

Dokter Spesialis Neurologi, dr. Oktaviana Niken P., Sp.N., DAIFIDN., MMRS., FNR., AIFO-K., menegaskan pentingnya menjaga kualitas tidur harian.

Menurutnya, gangguan tidur yang dibiarkan berlarut-larut dapat memicu berbagai kendala kesehatan serius yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

"Tidur bukan sekadar waktu istirahat, melainkan proses penting bagi otak untuk memperbaiki sel saraf dan memperkuat memori," ujar dr. Oktaviana dalam keterangan tertulisnya.

Gaya Hidup Urban dan Bahaya Gangguan Tidur Jangka Panjang

Gangguan tidur dapat hadir dalam beragam bentuk, mulai dari insomnia hingga kualitas tidur yang buruk. Gejala awal yang kerap dirasakan akibat kurang tidur antara lain: Tubuh mudah merasa lelah (chronic fatigue), Sulit berkonsentrasi saat bekerja atau belajar, Mudah lupa dan sering mengalami brain fog (otak terasa linglung/kabut), dan Perubahan suasana hati (mood swing) dan tingkat stres yang meningkat.

Pola hidup masyarakat perkotaan (urban lifestyle) yang akrab dengan waktu tidur minim, paparan screen time gawai berlebihan menjelang tidur, serta tekanan kerja tinggi menjadi pemicu utama rusaknya ritme sirkadian tubuh. Jika kondisi ini dibiarkan dalam jangka panjang, risiko penurunan fungsi kognitif hingga demensia dini dapat meningkat.

Solusi Canggih

Untuk mengatasi permasalahan ini, dr. Oktaviana menyarankan masyarakat untuk melakukan deteksi dini. Salah satu metode medis mutakhir yang kini digunakan adalah quantitative electroencephalography (qEEG) atau dikenal dengan istilah brain mapping.

Pemeriksaan brain mapping berfungsi memetakan secara detail gelombang aktivitas otak. Dari peta ini, dokter dapat mendeteksi pola ketidakseimbangan gelombang otak yang menjadi akar masalah dari gangguan tidur, tingkat stres berlebih, hingga risiko penurunan kognitif.

Setelah pemetaan dilakukan, pasien dapat menjalani pendekatan terapi neurofeedback. Metode ini melatih otak untuk memperbaiki dan menyeimbangkan kembali pola gelombang sarafnya, sehingga mampu meningkatkan fokus, memperbaiki kualitas tidur pulas (deep sleep), serta memicu regulasi emosi yang lebih stabil.

Pendekatan Personal 

Setiap individu memiliki pola dan pemicu gangguan tidur yang berbeda. Oleh karena itu, penanganannya tidak bisa disaratkan secara tergeneralisasi.

Dokter Spesialis Functional Medicine di Seraphim Medical Centre, dr. Febby Astari, IFMCP, menjelaskan bahwa penanganan kesehatan otak dan pola tidur harus dirancang secara komprehensif dan personal berdasarkan kondisi riil masing-masing individu.

"Setiap program di Brain Wellness & Sleep Center disusun secara personal berdasarkan hasil pemeriksaan masing-masing klien," ungkap dr. Febby.

Layanan pemulihan dan perawatan otak terpadu ini hadir di Brain Wellness & Sleep Center, Seraphim Medical Center, yang merupakan bagian dari jaringan Bethsaida Healthcare.

Selain menangani gangguan tidur, pusat kesehatan ini juga melayani berbagai keluhan terkait brain fog, kelelahan kronis akibat stres, gangguan motorik, hingga pencegahan risiko demensia sejak usia produktif hingga lanjut usia.

tidur kurang tidur kesehatan otak brain mapping