SAATINI.COM - Pada bulan Februari 2025,
CSA Index kembali mengalami penurunan signifikan ke level
56,3, serupa dengan penurunan yang terjadi pada Februari 2024 yang mencapai level
59,7.
Pola ini menunjukkan adanya dampak dari berakhirnya sentimen
January Effect, yang beriringan dengan kecenderungan pelemahan
IHSG.
Poin Utama:
- CSA Index Februari 2025 berada pada level 56,3.
- Potensi terjadinya Trade War memberikan sentimen negatif.
- Ketidakpastian semakin meningkat.
- Data dikumpulkan antara 16 - 31 Januari 2025.
Pergerakan
IHSG pada Februari ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan domestik.
Salah satu faktor eksternal yang memberikan tekanan pada pasar saham Indonesia adalah kebijakan geopolitik
Amerika Serikat.
Rencana Presiden AS untuk mempertimbangkan kembali pengetatan tarif perdagangan dengan
China menciptakan ketidakpastian di pasar global.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pasar saham AS, tetapi juga merambat ke pasar modal di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, tekanan terhadap pasar juga dipengaruhi oleh kekhawatiran akan
perlambatan ekonomi global, yang dipicu oleh kenaikan suku bunga
The Fed serta potensi resesi di negara-negara maju.
Sentimen negatif ini mendorong investor untuk mengurangi eksposur mereka di pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, dan beralih ke instrumen yang lebih aman seperti
obligasi dan
emas.
Dari sisi domestik, inflasi
year-on-year (yoy) pada Januari 2025 tercatat sebesar
0,76%, yang menjadi level terendah sejak tahun 2000.
Penurunan inflasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kebijakan diskon tarif listrik sebesar
50% untuk pelanggan tertentu serta penurunan tarif angkutan udara.
Meskipun inflasi yang rendah dapat meningkatkan daya beli masyarakat, kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran akan potensi
deflasi dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Meskipun inflasi mengalami penurunan, terdapat sentimen positif dari realisasi
Penanaman Modal Asing (PMA) yang mencatatkan rekor tertinggi sebesar
Rp245,8 triliun pada kuartal IV 2024.
Capaian ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor asing terhadap perekonomian Indonesia.
Sentimen positif tersebut turut memberikan dorongan bagi sejumlah sektor saham, terutama
infrastruktur,
manufaktur, dan
energi terbarukan.
Menurut Aji Martono, Ketua Umum PROPAMI “CSA Index Februari 2025 menunjukkan bahwa pelaku pasar kembali menghadapi realitas ketidakpastian.”
Proyeksi Kinerja IHSG dan Sektor Potensial:
Untuk proyeksi kinerja
IHSG dalam
12 bulan ke depan, pelaku pasar terlihat menurunkan target penguatan indeks.
Sebelumnya, pada Oktober 2024, target penguatan sempat dipatok di level
8.243, namun secara bertahap mengalami penurunan hingga pada Februari 2025 hanya diproyeksikan mencapai
7.277.
CSA Index turut mengamati sektor-sektor yang berpotensi menjadi penggerak utama
IHSG.
Sektor keuangan tetap menjadi pilihan utama bagi pelaku pasar, sejalan dengan tren dalam beberapa bulan terakhir di mana sektor ini selalu mendominasi, diikuti oleh sektor
energi.
Pelaku pasar menilai bahwa kedua sektor ini menarik untuk investasi karena memiliki banyak emiten dengan kapitalisasi pasar yang besar.
Selain itu, sektor keuangan dan energi cenderung berperan sebagai motor utama dalam pergerakan
IHSG.
CSA Index disusun oleh
CSA Institute bekerja sama dengan
Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), berdasarkan respon dari kuesioner yang dikirimkan kepada seluruh anggota AAEI dan alumni CSA Institute.
Setelah itu, hasil respon tersebut diverifikasi untuk memastikan objektivitas dan validitasnya.
Respon kuesioner dikumpulkan antara pertengahan hingga akhir bulan.
Pembacaan
CSA Index mencerminkan angka keyakinan dari responden terhadap pergerakan
IHSG pada bulan berikutnya, serta target penutupan IHSG.
Selain itu, untuk mengukur optimisme pasar terhadap kinerja IHSG, responden juga diminta untuk memberikan pandangan mereka mengenai kinerja IHSG di tahun berikutnya dan target penutupannya.
Kuesioner ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana pelaku pasar melihat peluang sektor-sektor yang menjadi
market movers.
Setelah melakukan tabulasi dan verifikasi terhadap hasil kuesioner, kami juga melakukan
deep interview untuk menggali lebih dalam pandangan pelaku pasar mengenai keyakinan mereka terhadap IHSG di masa depan.
Deep interview ini memungkinkan verifikasi lebih lanjut terhadap hasil CSA Index, untuk memastikan bahwa pandangan pelaku pasar sesuai dengan temuan yang ada.
Tentang CSA Index
CSA Index adalah indikator yang didasarkan pada
survey dan pandangan pelaku pasar mengenai kinerja IHSG serta sektor-sektor yang berpotensi menjadi penggerak pasar.
Indeks ini menggambarkan keyakinan dan pandangan para pelaku pasar dan analis terhadap kinerja IHSG di masa mendatang.
Tentang AAEI
AAEI (Asosiasi Analis Efek Indonesia) adalah organisasi nirlaba yang dibentuk oleh para analis efek pada tahun 2001. Pada tahun 2003, AAEI secara resmi dibentuk secara legal dengan kepengurusan yang terstruktur.
Terbentuknya kepengurusan ini mendorong anggota AAEI untuk aktif melakukan berbagai kegiatan di bidang pasar modal, antara lain dengan mengadakan seminar, visit emiten, bedah buku, serta memberikan komentar dan pandangan terhadap indeks dan isu-isu terkini yang terjadi di dunia pasar modal.
Tentang CSA Institute
CSA Institute adalah lembaga pelatihan berbasis kompetensi yang fokus pada pengembangan kompetensi analis.
Lembaga ini juga menyelenggarakan sertifikasi profesional seperti
Certified Securities Analyst (CSA),
Certified Technical Analyst (CTA),
Certified Fixed Income Analyst (CFIA), dan program-program lainnya yang terkait dengan industri jasa keuangan.
CSA Institute telah terverifikasi oleh
Lembaga Sertifikasi Pasar Modal (LSPPM) dan terdaftar di
Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).