CORE Indonesia menilai investasi menjadi kunci pertumbuhan ekonomi 8%. Pemerintah perlu menggenjot modal swasta dan menjaga investasi BUMN.
Jakarta, Saatini.com – Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen membutuhkan dorongan investasi yang lebih kuat. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai investasi menjadi salah satu kunci untuk mempercepat pertumbuhan sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja.
Namun, upaya tersebut tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah dan badan usaha milik negara (BUMN). Pemerintah juga perlu meningkatkan kepercayaan pelaku usaha swasta agar mereka berani menanamkan modal lebih besar di Indonesia.
Faisal menjelaskan, investasi berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Penanaman modal juga diharapkan menciptakan efek berantai terhadap penyerapan tenaga kerja dan konsumsi masyarakat.
"Jadi kalau ingin mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, sering kali banyak yang percaya bahwa ini memang harus didorong oleh investasi dulu, termasuk investasi ini punya dampaknya nanti ke lapangan kerja, termasuk juga ke konsumsi. Jadi harapannya di situ," ujar Faisal dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Menurut Faisal, pertumbuhan investasi selama periode kuartal I 2025 hingga kuartal II tahun ini rata-rata mencapai 5,5 persen. Jika melihat pertumbuhan dan nilai totalnya secara bersamaan, capaian tersebut dinilai positif, meski masih perlu ditingkatkan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Artinya, peningkatan investasi perlu menjadi perhatian agar target pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada capaian yang sudah ada. Pemerintah perlu memperkuat sumber pembiayaan pembangunan sekaligus menciptakan kondisi yang mendorong dunia usaha memperluas penanaman modal.
Faisal menyoroti komposisi investasi di Indonesia yang masih banyak ditopang pemerintah dan BUMN. Sementara itu, pertumbuhan investasi dari sektor swasta perlu mendapat dorongan lebih kuat.
Menurutnya, pemerintah perlu memberikan sinyal yang jelas dan membangun keyakinan pelaku usaha agar mereka bersedia menanamkan modal lebih besar. Kepercayaan tersebut penting untuk memperluas sumber investasi di luar peran pemerintah dan perusahaan negara.
"Ini memang saya pikir adalah mendorong investasi dengan memberikan sinyal kepada swasta, memberikan keyakinan pada swasta untuk inject lebih banyak menanamkan modal," katanya.
Dorongan terhadap investasi swasta juga perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga dan mengoptimalkan investasi BUMN. Dengan demikian, kedua sumber modal tersebut dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.
Bagi Faisal, peningkatan investasi tidak hanya berkaitan dengan besarnya dana yang masuk ke perekonomian. Kualitas investasi dan dampaknya terhadap aktivitas ekonomi masyarakat juga menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan.
Ia menilai pemerintah perlu mendorong investasi swasta sekaligus memastikan investasi BUMN tetap optimal untuk memperluas kesempatan kerja formal. Bertambahnya pekerjaan formal diharapkan memperkuat daya beli masyarakat dan memberikan dorongan lanjutan bagi perekonomian.
"Jadi harus dua-duanya itu didorong sehingga lapangan pekerjaan yang formal lebih banyak, sehingga ada dampak nanti terhadap konsumsi dan juga terhadap kinerja ekspor nantinya," kata Faisal.
Dengan pendekatan tersebut, investasi diharapkan menghasilkan manfaat yang melampaui penambahan modal. Peningkatan kesempatan kerja dapat mendukung konsumsi, sedangkan kegiatan usaha yang berkembang juga diharapkan berkontribusi terhadap kinerja ekspor.
Besarnya kebutuhan modal untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi juga disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani. Ia menyebut Indonesia membutuhkan investasi hingga Rp13.000 triliun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen.
Rosan juga mengungkapkan bahwa realisasi investasi Indonesia menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun sebelumnya, kontribusi investasi terhadap perekonomian rata-rata berada di kisaran 28–29 persen.
Dari sisi nilai, realisasi investasi pada 2024 mencapai kurang lebih Rp1.714 triliun. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi Rp1.931 triliun pada 2025.
Kenaikan realisasi investasi itu menunjukkan besarnya peran penanaman modal dalam perekonomian nasional. Meski demikian, kebutuhan investasi hingga Rp13.000 triliun untuk mengejar pertumbuhan 8 persen menegaskan bahwa upaya memperbesar arus modal masih menjadi agenda penting.
Rosan menekankan bahwa investasi yang masuk ke Indonesia diharapkan mampu meningkatkan sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas. Ia juga menegaskan pentingnya kualitas investasi, bukan hanya besarnya nilai penanaman modal.
Sejalan dengan pandangan tersebut, dorongan terhadap investasi swasta dan optimalisasi investasi BUMN menjadi dua hal yang perlu berjalan bersama. Fokusnya bukan hanya meningkatkan jumlah modal, tetapi juga memperbesar manfaat investasi bagi tenaga kerja dan aktivitas ekonomi nasional.
Dengan investasi yang lebih kuat dan berkualitas, pemerintah berharap dapat mendorong pertumbuhan ekonomi menuju target 8 persen. Tantangannya adalah menjaga kepercayaan investor, memperluas penciptaan pekerjaan formal, serta memastikan penanaman modal memberikan dampak nyata terhadap konsumsi dan ekspor. (*)