Saatini AMP
Lifestyle

Jelajah Batik Nusantara 3.0: Pesepeda Cirebon Kampanyekan Kepedulian Karhutla Melalui Batik Day Ride

Sebanyak 300 pesepeda mengikuti gelaran Jelajah Batik Nusantara 3.0 di Kota Cirebon dengan mengenakan kostum batik untuk merayakan warisan budaya sekaligus menyuarakan kepedulian terhadap krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Acara yang diinisiasi komunitas Bike to Work Indonesia ini juga membuka jalur donasi khusus guna membantu penyintas karhutla dan petugas pemadam kebakaran di tengah meningkatnya jumlah titik panas di Indonesia.

Oleh Sigit Nugroho Editor: Sigit Nugroho
Jelajah Batik Nusantara 3.0: Pesepeda Cirebon Kampanyekan Kepedulian Karhutla Melalui Batik Day Ride

Cirebon, Saatini.com — Ratusan pesepeda memadati jalanan Kota Cirebon dalam gelaran tahunan Jelajah Batik Nusantara 3.0. Mengusung tema "Cirebon Batik Day Ride", aksi bersepeda massal yang diinisiasi komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia bersama komunitas lokal "SokBike" dan BT Batik Trusmi ini menggabungkan pelestarian budaya bangsa dengan aksi nyata kemanusiaan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sebanyak 300 pesepeda dengan kostum batik khas tampak bersemangat mengayuh sepeda dari titik awal di Balai Kota Cirebon menuju garis akhir di kawasan BT Batik Trusmi. Kegiatan ini menjadi momentum istimewa karena merayakan warisan budaya Indonesia sekaligus membangkitkan kepedulian sosial terhadap krisis udara bersih yang melanda sejumlah wilayah Nusantara akibat karhutla.

Mengubah Kayuhan Sepeda Menjadi Aksi Kepedulian Sosial

Pelaksanaan Jelajah Batik Nusantara 3.0 berlangsung di tengah keprihatinan atas memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan catatan BMKG pekan ini, petugas mendeteksi 1.297 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di seluruh Indonesia. Kondisi darurat ini mendorong B2W Indonesia membuka jalur donasi khusus untuk membantu penyintas karhutla serta para petugas pemadam kebakaran yang berjuang di lapangan.

Ketua Bike to Work Indonesia, Hendro Subroto, memimpin doa bersama sebelum rombongan pesepeda mengayuh pedal. Ia menegaskan bahwa perjuangan mendapatkan udara bersih dan oksigen segar merupakan hak dasar setiap manusia yang perlu disuarakan secara konsisten oleh komunitas pesepeda.

"Setiap kayuhan adalah proses mencapai destinasi. Di dalamnya ada kepekaan sosial, ada solidaritas. Dalam kegiatan Cirebon Batik Day Ride ini, kita sekaligus menggerakkan empati," ujar Ketua Bike to Work Indonesia Hendro Subroto.

Hendro menekankan bahwa pemakaian batik saat bersepeda, bekerja, maupun beraktivitas di ruang publik menjadi wujud nyata memboyong identitas budaya Indonesia ke dalam kehidupan sehari-hari. Langkah ini sejalan dengan pengakuan UNESCO yang mengukuhkan Batik Indonesia dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity serta Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 yang menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Cirebon dan Keunikan Motif Batik Mega Mendung

Pemilihan Kota Cirebon sebagai tuan rumah penyelenggaraan Jelajah Batik Nusantara 3.0 bukan tanpa alasan. Kota Cirebon memiliki rekam jejak panjang dalam merawat tradisi batik lokal dengan sangat telaten dan penuh rasa bangga.

"Batik bermotif Mega Mendung sangat otentik Cirebon yang kini sudah mendunia," kata Hendro Subroto.

Motif Mega Mendung yang legendaris menyimbolkan ketenangan serta kesabaran, nilai yang sangat relevan dengan semangat gotong royong dan kepedulian sosial masyarakat saat menghadapi musibah nasional seperti karhutla.

Gerakan Serentak Membatik Jalanan di Seluruh Indonesia

Semangat Jelajah Batik Nusantara 3.0 juga membakar antusiasme anggota B2W di berbagai pelosok daerah. Sepanjang Oktober 2026, perwakilan B2W di wilayah pulau Sumatra hingga Sulawesi menggelar aksi bertajuk "Membatik Jalanan, Merawat Identitas Bangsa" secara serentak.

Di Pulau Sumatra, B2W Batam memimpin aksi bersepeda berbatik. Sementara itu, wilayah Banten diwakili Tangerang Selatan, Jawa Barat diwakili B2W Karawang, B2W Bogor, serta B2W Sukabumi. Di Jawa Tengah, B2W Pemalang dan B2W Jogja turut meramaikan jalanan, sedangkan Pulau Sulawesi diwakili oleh B2W Mamuju. Sebelumnya, B2W Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan komunitas se-Jabodetabek telah memulai aksi awal pada 4 Oktober 2026 lalu.

Tradisi Jelajah Batik Nusantara terus konsisten bergulir saban tahun. Setelah sukses menggelar edisi perdana di Yogyakarta pada 2024 dan edisi kedua di Solo pada 2025, edisi ketiga di Cirebon ini membuktikan bahwa roda sepeda mampu menggerakkan perubahan positif bagi kelestarian budaya dan kemanusiaan di Indonesia. (*)