Saatini AMP
Nasional

Kemenkes Temukan 3 Varian Genom TBC di Indonesia, Angka Kematian Capai 136 Ribu Jiwa

Kementerian Kesehatan RI mengidentifikasi tiga varian genom TBC yang berbeda secara geografis melalui pemetaan genetik pada 7.000 pasien untuk menilai efektivitas vaksin dan pengobatan baru. Temuan ini diungkap di tengah fakta bahwa Indonesia masih menjadi negara dengan beban TBC tertinggi kedua dunia dan mencatatkan 136.000 kematian tahunan.

Oleh Gatot Wahyu
Kemenkes Temukan 3 Varian Genom TBC di Indonesia, Angka Kematian Capai 136 Ribu Jiwa

DENPASAR, saatini.com - Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali mengungkap temuan penting dalam peta penanganan tuberkulosis (TBC) di tanah air.

Berdasarkan hasil riset mendalam yang melibatkan 7.000 pasien TBC lintas wilayah, Kemenkes berhasil mengidentifikasi tiga varian genom TBC yang memiliki karakteristik berbeda secara geografis.

Temuan krusial ini diungkapkan langsung oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam ajang internasional The 40th Stop TB Partnership Board Meeting 2026 yang digelar di Badung, Bali.

Pemetaan Genom: Perbedaan Varian Barat, Tengah, dan Timur

Penelitian berskala besar ini didukung penuh oleh pendanaan dari Global Fund serta memanfaatkan teknologi pengurutan genom (genome sequencing) mutakhir dari Illumina dan Oxford Nanopore. Hasilnya, karakteristik virus TBC di Indonesia terbagi menjadi tiga varian wilayah yang sangat spesifik:

"Saya ingin memeriksa apakah hal ini akan berdampak pada sensitivitas atau kurangnya sensitivitas serta efektivitas vaksin dan pengobatan baru tersebut, mengingat terdapat varian-varian yang sangat jelas perbedaannya," ujar Menkes Budi Gunadi.

Pemetaan genom ini menjadi fondasi vital bagi pemerintah untuk memastikan apakah varian genetik yang berbeda memengaruhi efektivitas vaksin maupun efikasi pengobatan baru yang sedang dikembangkan. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam riset teknologi kesehatan global.

Angka Kematian Mengkhawatirkan: Setiap 5 Menit, Dua Nyawa Melayang

Di balik capaian riset genom tersebut, Menkes Budi memaparkan fakta yang memprihatinkan. Indonesia saat ini masih menduduki posisi sebagai negara dengan beban dan insiden TBC tertinggi kedua di dunia setelah India, dengan angka kematian tahunan yang mencapai 136.000 jiwa.

Secara statistik, ia menggambarkan situasi darurat ini dengan perumpamaan yang menohok: setiap lima menit ia berbicara di forum internasional, rata-rata ada dua warga Indonesia yang meninggal dunia akibat TBC.

Kondisi tersebut menuntut respons cepat dari seluruh pemangku kepentingan. Menkes dengan tegas meminta agar birokrasi dan diskusi administratif dipangkas. Ia menekankan pentingnya percepatan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena keterlambatan regulasi hingga satu tahun dapat berisiko fatal bagi keselamatan nyawa masyarakat.

Langkah Strategis Menuju Eliminasi TBC

Sebagai bagian dari strategi penanggulangan jangka panjang, Indonesia saat ini tidak hanya fokus pada pemetaan genom, tetapi juga tengah mengawal beberapa langkah konkret:

  1. Uji Klinis Vaksin M72: Terlibat aktif dalam uji klinis fase ketiga vaksin TBC baru bersama berbagai negara mitra global.
  2. Inovasi Terapi Obat Baru: Mempersiapkan uji klinis obat baru TBC guna memangkas durasi masa pengobatan pasien agar lebih efisien.
  3. Aksi Nyata Birokrasi: Mengedepankan percepatan tindakan nyata mulai dari tahap skrining, pengobatan tepat sasaran, hingga distribusi vaksin langsung ke tangan pasien.

"Tidak ada satu pun hal yang sampai ke tangan pasien secara kebetulan. Kita perlu melakukan skrining terhadap pasien, memberikan pengobatan, serta menyalurkan vaksin kepada mereka. Lebih baik kita mempercepat persetujuan dan mempercepat tindakan," pungkas Menkes.