Christa Pike, terpidana mati berusia 50 tahun di Tennessee, Amerika Serikat, secara mengejutkan sadar dan mulai berbicara setelah selamat dari eksekusi suntik mati yang gagal. Meski mengalami cedera fisik parah dan trauma mendalam, kondisinya yang sempat diduga mati otak kini berangsur membaik di bawah perawatan intensif. Saat pertama kali siuman, ia sempat merasa bingung dan menanyakan keberadaan serta orang-orang di sekitarnya.
TENNESSEE, saatini.com - Terpidana mati di Tennessee, Amerika Serikat, Christa Pike, menunjukkan perkembangan kondisi yang mengejutkan setelah selamat dari upaya eksekusi dengan suntik mati yang gagal.
Perempuan berusia 50 tahun itu kini telah sadar dan mulai dapat berbicara setelah sebelumnya berada dalam kondisi kritis serta menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Pengacara Pike mengungkapkan, kliennya mulai berbicara pada Selasa (6/10/2026), hampir sepekan setelah eksekusi terhadapnya dihentikan pada 30 September 2026.
Dilansir BBC, Kamis (8/10/2026), kata-kata pertama yang diucapkan Pike setelah sadar adalah, “Di mana saya?” dan “Siapa Anda?”
Pengacaranya, Randy Spivey, mengatakan perkembangan tersebut mengejutkan tim hukum karena sebelumnya mereka sempat meyakini Pike mengalami mati otak.
“Di luar segala kemungkinan, Christa Pike sudah sadar, dapat berbicara, dan masih menerima perawatan medis intensif,” kata tim pengacara Pike dalam pernyataan yang dikutip Reuters.
Menurut Spivey, selama beberapa hari tim hukum memperkirakan alat bantu hidup Pike kemungkinan segera dilepas. Namun, kondisi tersebut berubah ketika Pike mulai menunjukkan respons dan berbicara.
Meski sudah sadar, Pike hanya mengingat sedikit mengenai proses eksekusi yang dialaminya.
Spivey mengatakan Pike terbangun di rumah sakit dalam kondisi menggunakan selang di tenggorokannya dan dikelilingi orang-orang yang tidak dikenalnya.
Kedua lengannya juga mengalami pembengkakan parah akibat masalah pemasangan jalur intravena selama proses eksekusi.
Pike bahkan disebut mengalami penggumpalan darah pada salah satu lengannya serta pneumonia. Ia juga masih mengalami kesulitan menelan.
“Kami tidak tahu dampak apa yang akan ditimbulkan dari semua ini terhadap kesehatan mentalnya,” kata Spivey.
Ia menyebut Pike merasa marah dan bingung setelah mengalami proses eksekusi yang berlangsung penuh masalah.
Tim pengacara sebelumnya mengatakan kondisi Pike sempat sangat kritis. Pada Jumat (2/10), Pike dilaporkan masih menggunakan ventilator untuk membantu pernapasan, sementara dokter berupaya membersihkan pentobarbital dari tubuhnya.
Pike diyakini sebagai satu-satunya orang yang diketahui selamat setelah obat eksekusi mati diberikan dalam proses eksekusi yang dilakukan petugas.
Upaya eksekusi terhadap Pike berlangsung pada 30 September 2026 di Riverbend Maximum Security Institution, Nashville, Tennessee.
Eksekusi tersebut menjadi perhatian karena merupakan upaya pertama Tennessee dalam sekitar dua abad untuk menghukum mati seorang perempuan.
Namun, pelaksanaannya mengalami kendala serius ketika petugas kesulitan memasang jalur intravena untuk memasukkan obat pentobarbital.
Proses tersebut berlangsung sekitar dua setengah jam sebelum akhirnya dihentikan. Pike kemudian dilarikan ke rumah sakit.
Pengacara dan sejumlah jurnalis yang menyaksikan proses tersebut menggambarkan pelaksanaan eksekusi sebagai situasi yang penuh kesulitan.
Catherine Sweeney, reporter lembaga penyiaran publik Nashville WPLN, mengatakan tidak ada bagian dari proses tersebut yang berjalan normal.
Selama prosedur berlangsung, Pike dilaporkan terengah-engah, menangis, merengek, dan bernapas dengan keras. Pada satu titik, ia disebut mengatakan bahwa lengannya terasa seperti akan pecah.
Dokumen pengadilan yang diajukan tim hukumnya menyebut kedua lengan Pike kemudian membengkak, mengalami luka seperti terbakar, dan melepuh.
Pengacara menduga kondisi tersebut terjadi setelah pentobarbital merembes ke jaringan di bawah kulit. Pentobarbital merupakan zat yang bersifat sangat basa dan korosif.
Tim hukum Pike juga menuding pejabat negara bagian mengabaikan peringatan dokter mengenai risiko pemasangan jalur intravena pada klien mereka.
Dokter sebelumnya disebut telah memperingatkan bahwa ukuran pembuluh darah Pike yang kecil, ditambah kondisi darah berupa trombositosis, dapat membuat pemasangan jalur intravena menjadi lebih sulit.
Saat proses eksekusi berlangsung, pengacara Pike sempat mengajukan permohonan darurat kepada pengadilan untuk menghentikan eksekusi.
Namun, berdasarkan catatan pengadilan, petugas penjara telah lebih dulu menghentikan proses tersebut dan memanggil ambulans.
Pike kemudian dibawa ke rumah sakit dalam kondisi tidak sadar.
Menurut Spivey, Pike sebelumnya sempat membantu tim eksekusi menemukan pembuluh darah di lengannya. Ia juga disebut bersikap ramah dan sopan ketika proses penyuntikan dilakukan.
Setelah Pike mulai sadar, tim hukumnya menghadap hakim dalam sidang darurat untuk meminta seluruh bukti terkait kegagalan eksekusi diamankan.
Bukti tersebut dinilai penting karena dapat menjadi bagian dari proses hukum yang mungkin ditempuh terhadap negara bagian Tennessee.
Luke Ihnen, salah satu pengacara Pike, mengatakan komunikasi dengan kliennya sebelumnya sangat terbatas karena Pike tidak sadarkan diri.
“Hingga kemarin, klien kami tidak sadarkan diri dan tidak dapat berkomunikasi,” ujarnya kepada Hakim Chancellor I'Ashea Myles.
Kini, Pike telah mampu berbicara meski masih secara terbatas.
Asisten Jaksa Agung Tennessee Will Ayers menyebut kasus tersebut memiliki situasi prosedural yang tidak lazim.
Hakim kemudian memerintahkan agar seluruh barang yang berada di ruang eksekusi disimpan dan diamankan. Perintah tersebut mencakup selang infus, jarum suntik, serta limbah terkait seperti kemasan, lembar informasi produk, dan label.
Pengadilan juga meminta dokumentasi mengenai kondisi psikologis Pike sebelum, selama, dan setelah upaya eksekusi pada 30 September 2026.
Departemen Pemasyarakatan Tennessee sebelumnya mempertahankan tindakan petugas dalam pelaksanaan eksekusi tersebut. Pada malam kejadian, lembaga itu menyatakan petugas telah mengikuti seluruh tahapan protokol eksekusi yang berlaku di negara bagian tersebut.
Namun, Gubernur Tennessee Bill Lee kemudian memerintahkan penghentian seluruh eksekusi yang telah dijadwalkan hingga akhir 2026.
Lee juga meminta pihak ketiga melakukan evaluasi terhadap apa yang terjadi dalam kasus Pike.
Komisioner Departemen Pemasyarakatan Tennessee Frank Strada turut mengundurkan diri dan dijadwalkan meninggalkan jabatannya pada Oktober 2026. Pengunduran diri tersebut diumumkan gubernur pada 3 Oktober.
Dua hari sebelum jadwal eksekusi Pike, Lee juga menolak permohonan grasi yang meminta hukuman mati Pike diubah menjadi penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat.
Dalam permohonan tersebut, tim Pike antara lain berargumentasi bahwa hukuman mati tidak mempertimbangkan secara memadai trauma yang dialaminya sejak kecil, termasuk kekerasan seksual, penelantaran, serta gangguan kesehatan mental yang disebut tidak mendapatkan penanganan memadai.
Pike dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan Colleen Slemmer, teman sekolahnya yang berusia 19 tahun, pada Januari 1995.
Saat itu, Pike berusia 18 tahun.
Menurut catatan perkara, Pike bersama kekasihnya yang berusia 17 tahun, Tadaryl Shipp, dan seorang rekan bernama Shadolla Peterson, membawa Slemmer ke kawasan berhutan di kampus University of Tennessee, Knoxville.
Pike dan Shipp kemudian dinyatakan bersalah atas pembunuhan tingkat pertama setelah keduanya mengakui keterlibatan mereka.
Pike menerima hukuman mati, sementara Shipp dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan kemungkinan pembebasan bersyarat.
Peterson, yang berperan sebagai penjaga selama kejadian dan kemudian memberikan kesaksian untuk jaksa, dijatuhi hukuman percobaan.
Kasus Pike kembali menjadi sorotan dunia setelah upaya eksekusinya pada September 2026 gagal.
Menurut Reuters, Pike menjadi orang pertama yang diketahui di Amerika Serikat yang selamat setelah obat untuk pelaksanaan hukuman mati diberikan dalam proses eksekusi.
Kondisinya yang kini mulai sadar dan mampu berbicara membuka babak baru dalam kasus tersebut. Selain menghadapi proses pemulihan medis yang panjang, tim hukumnya juga tengah berupaya mengamankan bukti pelaksanaan eksekusi yang gagal untuk kepentingan proses hukum selanjutnya.