Menjaga tekanan angin ban motor dan mobil sesuai spesifikasi pabrikan sangat penting untuk menjamin keselamatan, kenyamanan, serta efisiensi bahan bakar. Pengendara diimbau untuk selalu menggunakan alat ukur tekanan angin dan tidak hanya mengandalkan perataan fisik saat mengisi angin. Untuk penggunaan harian pada
JAKARTA, saatini.com - Tekanan angin ban sering kali dianggap sepele oleh banyak pemilik kendaraan. Padahal, menjaga tekanan angin yang tepat adalah kunci utama keselamatan, kestabilan, kenyamanan berkendara, hingga efisiensi bahan bakar dan keawetan umur ban.
Sayangnya, tak sedikit pengendara yang masih mengandalkan feeling saat mengisi angin. Ban dianggap sudah pas jika tidak terlihat kempis atau terasa keras saat ditekan dengan tangan atau ditendang ringan.
Padahal, cara tersebut sangat tidak akurat. Tekanan angin kendaraan wajib diukur menggunakan alat ukur (tire pressure gauge) dan disesuaikan dengan spesifikasi resmi dari pabrikan.
Untuk penggunaan harian, standar tekanan ban motor bervariasi tergantung jenis kendaraan dan beban bawaan:
Catatan Produsen: Produsen seperti Yamaha Indonesia dan pabrikan ban Michelin menyarankan rata-rata tekanan 29 PSI untuk ban depan dan 32 PSI untuk ban belakang. Jika digunakan untuk berboncengan atau membawa beban berat, tekanan ban belakang perlu dinaikkan sesuai panduan buku manual.
Untuk mobil penumpang, secara umum tekanan ban berada di kisaran 30-35 PSI. Namun, tipe mobil dan bobot kendaraan sangat menentukan:
City Car dan Hatchback: 30-32 PSI
Sedan dan MPV: 32-35 PSI
SUV dn Mobil Berbobot Besar: 33-38 PSI
Toyota Astra mengingatkan bahwa angka-angka di atas merupakan gambaran umum. Ukuran paling presisi selalu mengacu pada label stiker resmi yang menempel di kendaraan Anda.
Agar tidak salah kaprah hingga membahayakan keselamatan, hindari beberapa kebiasaan keliru berikut:
Di dinding ban sering tertera tulisan seperti "MAX PRESSURE 44 PSI". Ingat, ini bukan angka rekomendasi harian! Angka tersebut adalah batas toleransi maksimal kekuatan ban menahan tekanan, bukan standar kenyamanan kendaraan.
Pabrikan ban seperti Michelin menyarankan untuk selalu melihat stiker rekomendasi kendaraan yang biasanya terletak di:
Beban kendaraan tidak tersebar merata. Ban belakang motor dan mobil umumnya menerima beban lebih berat, terutama saat membawa penumpang atau barang bawaan.
Oleh karena itu, tekanan ban belakang biasanya diatur lebih tinggi ketimbang ban depan.
Jangan sekali-kali mengukur atau mengurangi tekanan angin sesaat setelah berkendara jauh. Gesekan ban dengan jalan membuat suhu di dalam ban meningkat sehingga udara mengembang dan pembacaan PSI menjadi lebih tinggi dari normal.
Bagaimana jika mobil hendak meluncur untuk perjalanan jauh dengan muatan penuh penumpang dan koper?