Saatini AMP
Bisnis

PLN EPI Bongkar Strategi Jaga Kepercayaan Publik, Publikasi Bukan Segalanya!

Oleh Sigit Nugroho
Sekretaris Perusahaan PT. PLN Energi Primer Indonesias (PLN EPI), Mamit Setiawan

Perusahaan mengandalkan komunikasi terarah dan sinergi dengan stakeholder untuk memperkuat reputasi. Program GASKITA mencatat kenaikan pemberitaan sekitar 57% hingga Juli 2026.

Surakarta, Saatini.com – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat pendekatan komunikasi korporasi untuk menjaga reputasi dan kepercayaan para pemangku kepentingan. Perusahaan menilai keberhasilan komunikasi tidak hanya bergantung pada banyaknya pemberitaan, tetapi juga pada kualitas hubungan, legitimasi, dan konsistensi dalam menjalankan komitmen.

Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, menyampaikan pandangan tersebut dalam konferensi The 8th Anugerah HUMAS INDONESIA (AHI) 2026 di Monumen Pers Nasional, Surakarta, Rabu (7/10/2026). Forum bertema “Membangun Transparansi, Menguatkan Kepercayaan Publik” itu mempertemukan praktisi komunikasi dari kalangan pemerintah dan korporasi.

Dalam acara tersebut, Mamit membawakan materi bertajuk “From Communication to Trust: Mengelola Stakeholder dan Reputasi di Tengah Ekspektasi Publik”. Ia menjelaskan pentingnya membangun komunikasi yang sesuai dengan karakter bisnis energi primer dan kebutuhan para pemangku kepentingan.

Bisnis Energi Perlu Dukungan Banyak Pihak

PLN EPI menjalankan bisnis energi primer yang mencakup gas, LNG, batu bara, dan biomassa. Dalam menjalankan kegiatan tersebut, perusahaan perlu menjaga hubungan dengan pemerintah, regulator, mitra usaha, media, serta masyarakat.

Menurut Mamit, karakteristik bisnis yang melibatkan hubungan ant perusahaan atau business-to-business (B2B) serta hubungan pemerintah dan dunia usaha atau government-to-business (G2B) membuat kepercayaan menjadi faktor penting. Perusahaan perlu membangun legitimasi agar pemangku kepentingan tidak hanya mengetahui program yang dijalankan, tetapi juga memahami dan mendukung arah kebijakannya.

“Ketika stakeholder utama Anda adalah pemerintah dan mitra bisnis dalam business-to-business (B2B) dan government-to-business (G2B), kepercayaan tidak dibangun lewat jangkauan, tetapi lewat legitimasi: kesediaan pejabat dan mitra untuk berdiri bersama narasi yang Anda bangun,” ujar Mamit.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa reputasi perusahaan tidak bisa terbentuk hanya melalui strategi publikasi. PLN EPI juga membutuhkan hubungan yang kuat dengan para pemangku kepentingan agar komunikasi sejalan dengan pelaksanaan program di lapangan.

PLN EPI Gunakan Pendekatan Inform, Engage, dan Trust

Untuk memperkuat kepercayaan, PLN EPI menerapkan pendekatan inform, engage, dan trust dalam strategi komunikasinya. Pendekatan ini mendukung pengembangan infrastruktur energi, terutama proyek gasifikasi pembangkit.

Perusahaan memulai strategi dengan memetakan stakeholder berdasarkan tingkat pengaruh dan kepentingan masing-masing. Setelah itu, PLN EPI membangun komunikasi secara konsisten serta memperkuat hubungan dengan regulator, kepala daerah, mitra bisnis, dan media.

Melalui pemetaan tersebut, perusahaan dapat menyesuaikan pendekatan komunikasi dengan peran setiap pihak. Strategi ini diharapkan mendorong keterlibatan pemangku kepentingan sekaligus memperkuat dukungan terhadap agenda pengembangan infrastruktur energi.

Mamit menegaskan bahwa legitimasi institusional menjadi unsur penting dalam menjaga kepercayaan. Karena itu, PLN EPI tidak hanya berupaya menyebarkan informasi, tetapi juga membangun hubungan yang mendukung keberlanjutan program perusahaan.

“Strategi komunikasi yang kami rancang dimulai dari pemetaan stakeholder berdasarkan power dan interest, pendekatan kepada regulator, kepala daerah, mitra bisnis hingga media. Pada akhirnya, legitimasi institusional menjadi mata uang kepercayaan bagi kami,” jelas Mamit.

Publikasi GASKITA Naik dari 758 Menjadi 1.194

Salah satu contoh penerapan strategi komunikasi PLN EPI terlihat dalam program GASKITA yang mendukung pengembangan infrastruktur gasifikasi. Program ini mencatat peningkatan jumlah pemberitaan dari 758 pada Agustus 2025 menjadi 1.194 hingga Juli 2026.

Angka tersebut menunjukkan kenaikan publikasi sekitar 57% selama periode yang disebutkan. Peningkatan ini menjadi salah satu capaian komunikasi GASKITA dalam memperluas eksposur informasi mengenai program tersebut.

Namun, PLN EPI tidak menjadikan jumlah pemberitaan sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Mamit menilai dukungan stakeholder, legitimasi institusional, dan kesinambungan kolaborasi juga berperan penting dalam menjaga kredibilitas perusahaan.

Dengan pendekatan tersebut, komunikasi diharapkan menghasilkan dampak yang lebih luas daripada sekadar meningkatkan visibilitas. Hubungan yang kuat dengan pemangku kepentingan menjadi bagian dari upaya perusahaan mendukung pengembangan infrastruktur energi.

AHI 2026 Tekankan Keterbukaan dan Dialog

Dalam konferensi yang sama, Founder dan CEO Humas Indonesia, Asmono Wikan, menyoroti transparansi dan komunikasi dialogis sebagai fondasi kepercayaan publik. Ia mendorong praktisi kehumasan untuk tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menyediakan ruang dialog yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Komunikasi yang terbuka memungkinkan organisasi memahami harapan publik sekaligus menjelaskan program dan kebijakan secara lebih jelas. Dengan demikian, hubungan antara perusahaan dan masyarakat dapat berkembang melalui interaksi yang lebih bermakna.

Selain Mamit, konferensi AHI 2026 menghadirkan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Publik Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Mochamad Akbar Hadi Prabowo. Direktur Kerja Sama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University, Alfian Helmi, juga menjadi pembicara dalam forum tersebut.

Diskusi lintas institusi itu menyoroti tantangan komunikasi di tengah ekspektasi publik yang terus berkembang. Transparansi, dialog, dan konsistensi menjadi aspek penting bagi organisasi yang ingin menjaga kepercayaan masyarakat.

Reputasi Jadi Bagian dari Dukungan Ketahanan Energi

PLN EPI terus menempatkan komunikasi korporasi sebagai bagian dari strategi membangun hubungan dengan stakeholder. Perusahaan menilai reputasi yang kuat membutuhkan keselarasan antara informasi yang disampaikan, tindakan nyata, dan dukungan para pemangku kepentingan.

Dalam pengembangan infrastruktur energi, kolaborasi dengan pemerintah, regulator, dan mitra usaha menjadi salah satu aspek penting. Hubungan yang terjaga dapat membantu memperkuat dukungan terhadap program perusahaan, termasuk inisiatif yang berkaitan dengan ketahanan energi nasional.

Karena itu, PLN EPI berupaya mengembangkan komunikasi yang tidak berhenti pada penyampaian pesan kepada publik. Perusahaan juga menekankan pentingnya keterlibatan stakeholder dan konsistensi dalam menjalankan program sebagai bagian dari pembangunan reputasi jangka panjang.

Pendekatan ini menempatkan publikasi sebagai sarana memperluas jangkauan informasi, sementara kolaborasi membantu membangun legitimasi dan konsistensi memperkuat kepercayaan. Bagi PLN EPI, ketiga unsur tersebut saling melengkapi dalam menjaga kredibilitas perusahaan di tengah tuntutan publik yang semakin tinggi. (*)