Pemerintah mengarahkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali untuk menjadi pusat pengembangan artificial intelligence (AI) dan semikonduktor melalui kemitraan strategis dengan China. Langkah ini memanfaatkan keberadaan Tsinghua Southeast Asia Center sebagai jembatan riset, teknologi, dan investasi industri digital di kawasan Asia Tenggara. KEK Kura-Kura Bali sendiri tercatat telah membukukan investasi sebesar Rp1,8 triliun hingga semester I 2026.
Jakarta, Saatini.com – Indonesia mulai mengarahkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali menjadi salah satu pusat pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan semikonduktor. Pemerintah ingin memanfaatkan kerja sama dengan China untuk memperkuat teknologi, riset, serta kapasitas industri nasional.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperluas kemitraan ekonomi Indonesia-China, terutama di sektor teknologi yang membutuhkan dukungan investasi, sumber daya manusia, dan pengembangan industri. Pemerintah menilai KEK Kura-Kura Bali memiliki posisi strategis untuk mempertemukan kepentingan akademik dengan kebutuhan dunia usaha.
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian sekaligus Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Ali Murtopo Simbolon, mengatakan kawasan tersebut berpeluang menjadi ruang kolaborasi teknologi antara Indonesia, China, dan negara-negara Asia Tenggara.
“Dalam situasi persaingan dan ketidakpastian global, Indonesia menawarkan ruang yang aman bagi pengembangan akademik dan kolaborasi industri. Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) dapat menjadi jembatan antara Tiongkok, kawasan Asia Tenggara, dan dunia,” ujar Ali dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu.
Pemerintah ingin mengarahkan kerja sama Indonesia-China melampaui peningkatan nilai investasi. Kemitraan tersebut juga perlu menghasilkan penguatan teknologi, pengembangan riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kemampuan industri dalam negeri.
Di KEK Kura-Kura Bali, Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) telah menjalankan sejumlah program akademik dan penelitian di bidang fisika serta neurosains. Lembaga tersebut juga menginisiasi forum semikonduktor bersama Tsinghua University.
Ke depan, pemerintah mempersiapkan kawasan ini untuk mengembangkan program kecerdasan buatan, riset dan pengembangan digital, serta ekonomi digital. Langkah tersebut diharapkan memperluas ruang kolaborasi antara institusi akademik dan pelaku industri.
Pengembangan AI dan semikonduktor menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem teknologi nasional melalui kerja sama internasional. Dengan menghubungkan riset dan industri, Indonesia ingin mendorong kemitraan yang tidak berhenti pada penanaman modal, tetapi juga memperkuat kapasitas dalam negeri.
Minat investor China terhadap kawasan ekonomi khusus di Indonesia turut menjadi modal untuk memperluas kolaborasi industri. Pada triwulan II-2026, sebanyak 97 dari total 481 badan usaha atau tenant di seluruh KEK Indonesia berasal dari China.
Angka tersebut menunjukkan perusahaan asal China telah menjadi bagian dari ekosistem investasi di berbagai kawasan tersebut. Kehadiran mereka juga membuka ruang bagi pemerintah untuk mendorong kerja sama yang lebih terarah pada pengembangan teknologi dan industri.
Secara keseluruhan, Indonesia memiliki 25 KEK dengan luas sekitar 23.797,88 hektare. Seluruh kawasan tersebut telah membukukan investasi kumulatif sekitar US$20,7 miliar, melibatkan 481 badan usaha, dan menciptakan lebih dari 283.000 lapangan kerja.
Capaian itu memperlihatkan skala ekonomi KEK sebagai salah satu instrumen untuk menarik investasi dan menciptakan kesempatan kerja. Pemerintah ingin memperkuat peran kawasan-kawasan tersebut agar kemitraan dengan investor asing juga menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Untuk memperkuat kemitraan industri, pemerintah juga mendorong kerja sama melalui skema Two Countries Twin Parks (TCTP). Skema ini menghubungkan potensi sumber daya dan pasar Indonesia dengan kapasitas investasi, teknologi, serta industri China.
Melalui pendekatan tersebut, kedua negara diharapkan dapat mengembangkan proyek industri yang lebih konkret dan terintegrasi. Pemerintah juga ingin mendorong peningkatan nilai tambah ekonomi melalui kolaborasi yang menghubungkan sumber daya, teknologi, dan pasar.
Skema TCTP menjadi salah satu jalur untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara melalui proyek-proyek yang memiliki keterkaitan industri. Dalam konteks pengembangan teknologi, kemitraan seperti ini dapat diarahkan untuk mendukung riset, pengembangan digital, dan kapasitas industri nasional sesuai program yang disiapkan.
Di tengah rencana pengembangan ekosistem teknologi, KEK Kura-Kura Bali telah mencatat realisasi investasi kumulatif sebesar Rp1,8 triliun hingga semester I-2026. Kawasan tersebut juga menyerap 2.173 tenaga kerja.
Selain investasi dan penyerapan tenaga kerja, KEK Kura-Kura Bali mencatat 131.657 kunjungan hingga periode yang sama. Angka tersebut menjadi bagian dari gambaran aktivitas ekonomi kawasan yang tengah dikembangkan pemerintah.
Ke depan, pemerintah mendorong pengembangan kawasan tersebut melalui penguatan kolaborasi akademik dan industri, termasuk di bidang AI, riset digital, dan semikonduktor. Kerja sama Indonesia-China diharapkan dapat membantu membuka peluang investasi sekaligus meningkatkan kemampuan teknologi dan sumber daya manusia Indonesia.
Pengembangan KEK Kura-Kura Bali memperlihatkan arah kerja sama ekonomi yang tidak hanya berfokus pada besarnya modal masuk. Pemerintah juga menekankan pentingnya riset, transfer pengetahuan, penguatan sumber daya manusia, dan peningkatan kapasitas industri nasional.
Dukungan melalui TSEA, forum semikonduktor, serta skema TCTP menjadi bagian dari upaya membangun hubungan antara dunia akademik dan sektor industri. Dengan pengembangan program AI dan ekonomi digital, KEK Kura-Kura Bali dipersiapkan untuk memainkan peran lebih besar dalam ekosistem teknologi Indonesia.
Namun, pemerintah masih perlu menindaklanjuti rencana tersebut melalui program dan proyek industri yang konkret. Keberhasilan pengembangan kawasan akan bergantung pada kemampuan mengubah kerja sama, investasi, dan kegiatan riset menjadi peningkatan kapasitas teknologi serta nilai tambah ekonomi nasional. (*)