Badan Gizi Nasional (BGN) meluruskan isu pengurangan relawan SPPG dengan menegaskan bahwa tidak ada kewajiban memangkas tenaga kerja, melainkan hanya menyediakan skema acuan perhitungan kebutuhan harian. Jumlah relawan bersifat fleksibel dan boleh melebihi angka acuan, asalkan total biaya operasional tetap berada di bawah pagu maksimal Rp3.000 per penerima manfaat per hari.
JAKARTA, saatini.com - Badan Gizi Nasional (BGN) meluruskan simpang siur informasi terkait penyesuaian tenaga kerja dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). BGN menegaskan tidak pernah mewajibkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memangkas atau mengurangi jumlah tenaga relawan—seperti petugas pemorsian hingga sopir distribusi.
Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, menjelaskan bahwa pihak pusat hanya menerbitkan skema acuan perhitungan kebutuhan relawan harian yang disesuaikan dengan skala pelayanan di setiap dapur SPPG.
"Perlu kami sampaikan bahwa tidak ada kewajiban bagi dapur SPPG untuk mengurangi relawan. Kami hanya memberikan alternatif perhitungan kebutuhan relawan SPPG per hari berdasarkan jumlah penerima manfaat," ujar Tysa Novenny di Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Tysa menekankan bahwa jumlah relawan di lapangan bersifat fleksibel. Dapur SPPG diperbolehkan memberdayakan tenaga relawan melebihi angka acuan yang diberikan, selama total pengeluaran operasional tidak melampaui batas maksimal yang ditetapkan.
"Bagaimana jika jumlah relawan melebihi angka alternatif kebutuhan tadi? Tidak apa-apa asal biaya operasionalnya tidak melebihi pagu Rp3.000 per penerima manfaat per hari," tegas Tysa.
Sebagai panduan operasional agar pelayanan berjalan efektif dan efisien, BGN menyusun alternatif perhitungan jumlah tenaga kerja ideal berdasarkan volume penerima manfaat:
Guna mengakomodasi seluruh tenaga relawan tanpa membebankan anggaran operasional, BGN merekomendasikan penerapan sistem giliran kerja (shifting).
Metode ini dinilai menjadi solusi win-win bagi mitra SPPG agar pengaturan operasional harian berjalan lancar dan seluruh relawan tetap mendapat kesempatan berkontribusi secara adil.
"Kami tidak pernah meminta dapur SPPG untuk mengurangi jumlah relawan. Namun, para mitra dapat mencoba alternatif pengaturan melalui sistem shifting relawan setiap harinya sesuai dengan kebutuhan dan jumlah penerima manfaat yang dilayani," pungkas Tysa.