Pendapatan Antam mencapai Rp62,7 triliun pada semester I 2026. Bisnis nikel serta bauksit dan alumina menjadi motor pertumbuhan perseroan.
Jakarta, Saatini.com – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada semester I 2026. Di tengah upaya memperkuat bisnis hilirisasi mineral, perseroan membukukan laba bersih Rp6,4 triliun atau melonjak 36% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan Antam juga meningkat 6,3% menjadi Rp62,7 triliun. Pertumbuhan bisnis nikel serta bauksit dan alumina menjadi salah satu penopang utama kinerja perusahaan tambang tersebut.
Capaian ini memperlihatkan kontribusi sejumlah komoditas terhadap penguatan bisnis Antam. Selain mengoptimalkan operasional, perseroan terus mendorong hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah mineral dan memperkuat fundamental bisnis dalam jangka panjang.
Hilirisasi Jadi Strategi Antam Perkuat Bisnis
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira, mengatakan kinerja semester I 2026 mencerminkan fundamental perusahaan yang tetap kuat. Perseroan menjaga pencapaian tersebut melalui optimalisasi komoditas utama, pengendalian biaya, serta pengelolaan risiko secara disiplin.
"Antam terus menjaga momentum pertumbuhan melalui optimalisasi kinerja operasional, peningkatan efisiensi, serta penguatan portofolio bisnis pada komoditas emas, nikel, serta bauksit dan alumina. Pada saat yang sama, kami tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan dan risiko," ujar Arini dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin.
Menurut Arini, hilirisasi menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral. Langkah tersebut juga mendukung upaya perusahaan menjaga kinerja secara berkelanjutan.
"Dengan fundamental yang semakin kuat dan portofolio komoditas yang terdiversifikasi, kami optimistis Antam dapat menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan serta memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan," katanya.
Strategi tersebut berjalan seiring dengan penguatan portofolio bisnis Antam yang mencakup emas, nikel, serta bauksit dan alumina. Dengan mengoptimalkan berbagai komoditas tersebut, perusahaan berupaya menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mengelola risiko bisnis.
Nikel dan Bauksit Jadi Motor Pertumbuhan Pendapatan
Riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menunjukkan bisnis nikel serta bauksit dan alumina mencatat pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan bisnis emas. Pendapatan dari bisnis nikel meningkat 32,4%, sedangkan bauksit dan alumina tumbuh 28,3% pada semester I 2026.
Sementara itu, pendapatan bisnis emas tumbuh lebih moderat sebesar 1,4%. Perbedaan pertumbuhan tersebut memperlihatkan besarnya kontribusi bisnis nikel serta bauksit dan alumina terhadap peningkatan pendapatan Antam pada periode tersebut.
BRIDS juga menilai kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP), terutama pada komoditas nikel, turut mendorong peningkatan laba bersih perusahaan. Perbaikan harga jual ini menjadi salah satu faktor penting di balik pertumbuhan profitabilitas Antam.
Harga Jual Nikel Melonjak 44% secara Tahunan
Bisnis nikel menjadi salah satu sorotan dalam kinerja Antam pada kuartal II 2026. BRIDS mencatat ASP nikel naik 18,7% dibandingkan kuartal sebelumnya dan melonjak 44% secara tahunan menjadi US$80 per ton.
Kenaikan ASP tersebut didorong oleh harga patokan mineral (HPM) yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, volume penjualan bijih nikel Antam mencapai 3,4 juta ton.
Penguatan harga jual tersebut turut mendukung profitabilitas bisnis nikel. Margin laba bersih atau net profit margin (NPM) bisnis ini meningkat 410 basis poin secara kuartalan menjadi 54,5%.
Capaian margin tersebut menjadi salah satu indikator kuatnya kontribusi bisnis nikel terhadap kinerja Antam. Kombinasi pertumbuhan pendapatan dan perbaikan harga jual ikut menopang kenaikan laba bersih perusahaan pada semester pertama tahun ini.
Margin Bisnis Bauksit Capai 24,1%
Selain nikel, bisnis bauksit juga mencatatkan margin laba bersih yang cukup tinggi. BRIDS mencatat NPM bisnis bauksit mencapai 24,1%.
Angka tersebut menunjukkan bahwa bisnis bauksit memberikan kontribusi terhadap profitabilitas Antam, sejalan dengan pertumbuhan pendapatan bauksit dan alumina sebesar 28,3%. Namun, data yang disampaikan BRIDS membedakan pertumbuhan pendapatan gabungan bauksit dan alumina dengan margin laba bersih bisnis bauksit.
Antam terus mengembangkan portofolio komoditasnya agar tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan. Penguatan bisnis nikel, bauksit dan alumina, serta emas menjadi bagian dari upaya menjaga kinerja perusahaan dalam jangka panjang.
Penjualan Emas Naik, tetapi Harga Terkoreksi
Bisnis emas Antam juga menunjukkan perkembangan dari sisi volume penjualan. Pada kuartal II 2026, volume penjualan emas mencapai 9,6 ton atau meningkat 13,6% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Meski demikian, BRIDS mencatat harga emas pada periode tersebut turun 9,2% secara kuartalan seiring normalisasi harga. Kendati mengalami koreksi dalam periode tersebut, harga emas masih mencatat pertumbuhan 38% sepanjang tahun.
Pergerakan harga dan volume penjualan menjadi dua faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca kinerja bisnis emas Antam. Dalam periode ini, peningkatan volume penjualan berlangsung bersamaan dengan penurunan harga emas secara kuartalan.
BRIDS mencatat margin laba bersih bisnis emas sebesar 4,4%. Angka tersebut berada di bawah margin bisnis nikel yang mencapai 54,5% dan bisnis bauksit sebesar 24,1%.
Laba Semester I Sudah Mendekati 70% Target Tahunan
Pencapaian laba bersih Rp6,4 triliun pada semester I 2026 telah mencakup 69,7% dari proyeksi laba setahun penuh BRIDS. Angka tersebut juga setara dengan 70% dari konsensus analis.
Dari sisi pendapatan, realisasi Rp62,7 triliun telah mencapai 52,9% dari estimasi BRIDS untuk sepanjang 2026. Capaian pada paruh pertama tahun ini menjadi dasar untuk melihat perkembangan kinerja Antam terhadap proyeksi tahunan.
BRIDS mempertahankan proyeksi pendapatan Antam sepanjang 2026 sebesar Rp118,7 triliun. Lembaga riset tersebut juga memperkirakan laba bersih perusahaan mencapai Rp9,2 triliun hingga akhir tahun.
Dengan demikian, kinerja semester I 2026 memperlihatkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang didukung sejumlah komoditas utama. Ke depan, penguatan operasional, efisiensi, pengelolaan risiko, serta pengembangan hilirisasi menjadi bagian dari strategi Antam untuk menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.(*)
Tinggalkan Komentar