Wamen ESDM Yuliot menyiapkan pengembangan tahap kedua PLTA Batang Toru. Proyek ini berpotensi menambah pasokan listrik sekaligus mengoptimalkan aliran Sungai Batang Toru.

JAKARTA, Saatini.com — Pemerintah membidik ekspansi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Sumatera Utara dengan tambahan kapasitas sebesar 160 megawatt (MW). Rencana tersebut menjadi pengembangan tahap kedua setelah proyek yang berjalan saat ini mencapai kapasitas terpasang total 510 MW.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengatakan pemerintah menyiapkan pengembangan lanjutan setelah pembangunan tahap pertama berjalan dengan baik. Kajian untuk menambah kapasitas pembangkit tersebut juga sudah tersedia.

“Setelah ini berjalan dengan baik, kemudian rencananya ada pengembangan 160 MW,” ujar Yuliot saat ditemui di Bendungan Air PLTA Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat.

Rencana ekspansi ini membuka peluang untuk meningkatkan pemanfaatan potensi energi air di Sungai Batang Toru. Pemerintah juga mempertimbangkan pembangunan unit tambahan di bagian hilir sungai agar aliran air dapat menghasilkan pasokan listrik secara lebih optimal.

PLTA Batang Toru Punya Kapasitas 510 MW

PLTA Batang Toru saat ini dikembangkan oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) dengan kapasitas terpasang total 510 MW. Pembangkit tersebut dirancang untuk beroperasi penuh pada jam beban puncak, yakni pukul 18.00 hingga 24.00.

Karakteristik operasi tersebut menempatkan PLTA Batang Toru sebagai salah satu proyek yang dirancang untuk mendukung kebutuhan listrik pada malam hari. Melalui rencana penambahan kapasitas 160 MW, pemerintah ingin membuka ruang bagi pengembangan pembangkit lebih lanjut setelah proyek yang berjalan saat ini menunjukkan hasil yang baik.

Yuliot menegaskan bahwa pengembangan tahap kedua tidak akan langsung berjalan sebelum tahap pertama berlangsung dengan lancar. Meski demikian, NSHE telah menyiapkan studi kelayakan untuk rencana perluasan tersebut.

“(Tahap lanjutannya) setelah yang saat ini jalan. Tetapi kajiannya sudah dibuat,” ucap Yuliot.

Belajar dari China, Satu Sungai Bisa Punya 17 PLTA

Dalam menyiapkan pengembangan PLTA Batang Toru, pemerintah melihat model pengembangan pembangkit bertingkat yang diterapkan di China. Negara tersebut memanfaatkan satu aliran sungai untuk menopang hingga 17 PLTA dengan kapasitas gabungan sekitar 22 gigawatt (GW).

Model tersebut memungkinkan China mengoptimalkan potensi energi air dari satu aliran sungai melalui sejumlah pembangkit. Pendekatan serupa menjadi referensi bagi pemerintah untuk mengembangkan potensi listrik di Sungai Batang Toru.

“17 PLTA dalam satu aliran sungai. Mereka memiliki kapasitas sekitar 22 gigawatt (GW),” kata Yuliot.

Pengalaman China tersebut menjadi gambaran mengenai peluang pengembangan pembangkit bertingkat di Indonesia. Pemerintah ingin mengoptimalkan potensi aliran sungai dengan mempertimbangkan pembangunan unit tambahan di bagian hilir Batang Toru.

Rencana tersebut diarahkan untuk menambah kapasitas pembangkit tanpa hanya bergantung pada pengembangan unit yang sudah berjalan. Namun, pelaksanaannya tetap mengikuti perkembangan proyek tahap pertama dan proses pengembangan lanjutan yang telah dikaji.

Pemerintah Ingin Ekspansi Tanpa Tender Ulang

Salah satu poin penting dalam rencana pengembangan PLTA Batang Toru adalah opsi untuk melanjutkan proyek bersama NSHE tanpa menggelar tender baru. Yuliot menilai perusahaan tersebut telah mengikuti proses tender untuk pembangunan yang sedang berlangsung dan memiliki pengalaman dalam mengembangkan proyek tersebut.

Menurutnya, penambahan unit di hilir sungai dapat dipertimbangkan sebagai perluasan proyek yang sudah ada. Dengan pendekatan itu, pemerintah ingin menghindari proses yang mengharuskan pemenang tender baru mencari investor dan kembali menawarkan pengembangan kepada NSHE.

“Kalau bisa, ya, tanpa tender lagi. Karena ini (pembangunan yang sedang berlangsung) kan sudah tender. Tinggal perluasan, nambah ke bawah,” ujar Yuliot.

Ia menjelaskan bahwa NSHE telah menyiapkan studi kelayakan atau *feasibility study* (FS) untuk pengembangan lanjutan. Dokumen tersebut menjadi salah satu dasar pembahasan rencana penambahan kapasitas pembangkit.

Yuliot menilai pengalaman NSHE dalam proyek yang sedang berjalan menjadi pertimbangan dalam menentukan skema pengembangan berikutnya. Meski demikian, rencana penambahan kapasitas tetap bergantung pada kelanjutan tahap pertama dan keputusan mengenai pelaksanaan ekspansi.

“Ini FS (studi kelayakan)-nya sudah disiapkan oleh NSHE, nanti kalau ditenderkan itu ya, ini pemenang tender cari investor lagi, sodori lagi sama NSHE untuk pengembangan. Itu yang kami tidak inginkan. Ini (NSHE) kan sudah terbukti,” ucap Yuliot.

Ekspansi 160 MW Masih Menunggu Kelanjutan Tahap Pertama

Rencana penambahan 160 MW menunjukkan bahwa pemerintah melihat peluang pengembangan lebih lanjut di kawasan PLTA Batang Toru. Selain memperbesar kapasitas pembangkit, pendekatan bertingkat berpotensi membantu pemanfaatan aliran sungai secara lebih optimal.

Namun, pemerintah masih menempatkan kelancaran pembangunan tahap pertama sebagai prasyarat sebelum melanjutkan ekspansi. Kajian yang telah disiapkan NSHE menjadi bagian dari persiapan, sementara skema pelaksanaan proyek berikutnya masih perlu ditindaklanjuti.

Jika rencana tersebut berlanjut, PLTA Batang Toru berpeluang memiliki kapasitas lebih besar melalui tambahan unit di hilir sungai. Pemerintah kini membidik pengembangan itu sebagai bagian dari upaya memaksimalkan potensi energi air di Sumatera Utara. (*)