JAKARTA, saatini.com - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan seruan boikot terhadap sejumlah produk asal Indonesia yang muncul di media sosial Malaysia belum berdampak terhadap aktivitas perdagangan kedua negara.

Menurut Budi, reaksi yang berkembang di media sosial tersebut lebih bersifat sementara dan tidak menunjukkan adanya gangguan terhadap hubungan perdagangan Indonesia dan Malaysia.

“Saya kira tidak (berdampak). Ini kan mungkin hanya respons sesaat saja,” kata Budi kepada wartawan di Jakarta, Kamis.

Budi mengatakan Kementerian Perdagangan terus memantau perkembangan situasi tersebut. Ia juga telah berkoordinasi dengan Atase Perdagangan serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur untuk mengetahui kondisi perdagangan secara langsung di lapangan.

Berdasarkan hasil pemantauan, aktivitas perdagangan antara Indonesia dan Malaysia disebut masih berlangsung normal.

“Enggak ada masalah, oke aja,” ujar Budi.

Seruan Muncul Usai Laga Timnas Indonesia

Seruan boikot terhadap sejumlah produk Indonesia mulai ramai diperbincangkan di lini masa media sosial Malaysia setelah Tim Nasional Indonesia berhasil melangkah ke final FIFA ASEAN Cup 2026.

Persaingan di ranah olahraga tersebut kemudian berkembang menjadi sentimen di media sosial yang turut menyentuh aspek ekonomi dan budaya.

Sejumlah pengguna media sosial Malaysia menyerukan pembatasan terhadap produk-produk serta karya yang berasal dari Indonesia.

Beberapa merek Indonesia yang memiliki pasar di Malaysia ikut menjadi sasaran seruan tersebut. Di antaranya Indomie, Kopi Kenangan, J.CO Donuts, Garuda Indonesia, dan Eiger.

Seruan tersebut tidak hanya berkaitan dengan produk yang diperdagangkan secara langsung.

Gelombang sentimen di media sosial juga mencakup ajakan untuk membatasi pemutaran musik Indonesia, konser, hingga penampilan artis Indonesia di berbagai panggung hiburan di Malaysia.

Pantau Dampak ke Perdagangan

Munculnya seruan boikot tersebut menjadi perhatian karena Indonesia dan Malaysia memiliki hubungan perdagangan serta hubungan ekonomi yang erat.

Namun, berdasarkan pemantauan yang disampaikan Budi, aktivitas perdagangan hingga saat ini tetap berjalan seperti biasa.

Koordinasi dengan perwakilan perdagangan dan KBRI di Kuala Lumpur dilakukan untuk memastikan pemerintah mendapatkan gambaran mengenai kondisi aktual di lapangan.

Pemerintah juga menilai perkembangan di media sosial perlu dilihat secara proporsional dan dibedakan dari kondisi perdagangan kedua negara secara keseluruhan.

Budi menegaskan bahwa hingga pemantauan dilakukan, tidak terdapat masalah yang mengganggu aktivitas perdagangan bilateral akibat seruan boikot tersebut.