JAKARTA, saatini.com - Memilih pasangan bukan hanya soal rasa cinta, ketertarikan, atau kenyamanan pada awal hubungan.
Seseorang juga perlu memahami karakter calon pasangan, mengenali kebutuhan emosional diri sendiri, serta memastikan hubungan yang dijalani memberikan rasa aman dan saling menghargai.
Penulis sekaligus pelatih hubungan, Sabrina Bendory, membagikan lima pelajaran penting tentang berkencan berdasarkan pengalamannya selama 17 tahun menulis dan mendampingi orang dalam menjalani hubungan romantis.
Pelajaran tersebut menyoroti sejumlah hal yang kerap luput dari perhatian ketika seseorang jatuh cinta. Mulai dari terlalu berharap pasangan berubah, merasa dibutuhkan tetapi belum tentu dicintai, hingga kehilangan jati diri demi mempertahankan hubungan.
Mengutip laman Real Simple, Senin (19/10), Bendory menekankan pentingnya bersikap realistis dalam menilai pasangan.
Menurutnya, hubungan yang sehat membutuhkan pemahaman terhadap perilaku nyata seseorang, bukan hanya bayangan tentang sosok yang mungkin terbentuk pada masa depan.
Berikut lima pelajaran yang dapat menjadi pertimbangan agar tidak salah memilih pasangan.
1. Nilai Pasangan dari Perilakunya, Bukan Potensinya
Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat berkencan adalah menilai seseorang berdasarkan potensi yang dimilikinya.
Seseorang mungkin terlihat memiliki peluang menjadi pasangan ideal apabila mau berubah, memperbaiki kebiasaan, atau menunjukkan komitmen yang lebih kuat.
Namun, harapan tersebut tidak selalu sesuai dengan kenyataan.
Bendory mengingatkan bahwa seseorang tidak seharusnya menggantungkan kebahagiaan hubungan pada kemungkinan pasangan berubah di kemudian hari.
Perubahan memang bisa terjadi, tetapi keputusan untuk memperbaiki diri tetap bergantung pada kemauan orang yang bersangkutan.
Karena itu, penting untuk memperhatikan bagaimana pasangan memperlakukan diri kita saat ini. Apakah dia menunjukkan tanggung jawab, menghargai perasaan, menepati janji, dan memberikan komitmen yang jelas?
Pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang menilai apakah hubungan yang dijalani benar-benar sesuai dengan kebutuhannya.
Jika pasangan tidak menunjukkan perubahan seperti yang diharapkan, seseorang perlu mempertimbangkan kembali apakah hubungan tersebut masih layak dipertahankan.
Jangan sampai terlalu terpaku pada sosok ideal yang dibayangkan hingga mengabaikan kenyataan yang terjadi.
2. Merasa Dibutuhkan Belum Tentu Dicintai
Pelajaran kedua adalah memahami perbedaan antara merasa dibutuhkan dan merasa dicintai.
Dalam sebuah hubungan, seseorang mungkin merasa memiliki peran penting karena selalu membantu pasangan menyelesaikan masalah, memberikan dukungan emosional, atau hadir setiap kali dibutuhkan.
Perasaan tersebut bisa membuat seseorang merasa berharga. Namun, menurut Bendory, menjadi orang yang selalu diandalkan tidak otomatis berarti mendapatkan cinta dan penghargaan yang seimbang.
Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua pihak untuk saling mendukung. Bukan hanya satu orang yang terus berkorban, menyelesaikan persoalan, atau berusaha menjaga hubungan tetap berjalan.
Coba perhatikan bagaimana pasangan memperlakukan diri kita ketika sedang tidak membutuhkan bantuan. Apakah dia tetap memberikan perhatian, menghargai pendapat, dan berusaha memahami perasaan kita?
Jika perhatian hanya muncul ketika pasangan membutuhkan sesuatu, kondisi tersebut patut menjadi bahan evaluasi.
Cinta yang sehat tidak semata-mata diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada pasangan. Hubungan juga membutuhkan kepedulian, penghargaan, dan usaha yang datang dari kedua belah pihak.
3. Jangan Hanya Andalkan Rasa Berdebar, Perhatikan Kecocokan
Ketertarikan yang kuat sering kali menjadi alasan seseorang ingin menjalin hubungan. Rasa berdebar saat bertemu, terus memikirkan pasangan, atau merasa sangat antusias ketika menerima pesan memang dapat menjadi bagian dari pengalaman jatuh cinta.
Namun, perasaan intens tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa dua orang cocok membangun hubungan jangka panjang.
Bendory menyarankan agar seseorang memperhatikan perasaannya ketika menghabiskan waktu bersama pasangan. Selain rasa tertarik, penting untuk menilai apakah hubungan tersebut membuat kita merasa aman, dihargai, dan nyaman menjadi diri sendiri.
Kecocokan juga terlihat dari cara kedua pihak berkomunikasi, menyelesaikan konflik, serta menghadapi perbedaan pendapat.
Pasangan yang cocok tidak harus selalu memiliki pemikiran atau kebiasaan yang sama. Hal yang lebih penting adalah kemampuan untuk saling memahami, menghormati perbedaan, dan mencari jalan keluar ketika menghadapi persoalan.
Karena itu, jangan terburu-buru mengambil keputusan hanya karena hubungan terasa menyenangkan pada awalnya. Berikan waktu untuk mengenali karakter pasangan dan melihat bagaimana dia bersikap dalam berbagai situasi.
Dengan begitu, keputusan untuk melanjutkan hubungan tidak hanya didasarkan pada ketertarikan sesaat, tetapi juga pada kecocokan yang lebih mendalam.
4. Jangan Jadikan Penolakan sebagai Ukuran Harga Diri
Ditolak oleh seseorang yang disukai bisa menimbulkan rasa kecewa, sedih, bahkan membuat seseorang mempertanyakan kualitas dirinya sendiri.
Meski demikian, Bendory mengingatkan bahwa penolakan tidak selalu berarti seseorang memiliki kekurangan atau tidak layak dicintai.
Dalam hubungan romantis, setiap orang memiliki kebutuhan, tujuan hidup, preferensi, dan harapan yang berbeda. Dua orang bisa saja saling mengenal tanpa akhirnya menemukan kecocokan untuk membangun hubungan bersama.
Karena itu, keputusan seseorang untuk tidak melanjutkan hubungan tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk menilai harga diri.
Alih-alih terus mempertanyakan apa yang salah pada diri sendiri, seseorang dapat menggunakan pengalaman tersebut untuk memahami kebutuhan dan harapan dalam hubungan berikutnya.
Penting juga untuk menerima bahwa tidak semua ketertarikan akan berakhir dengan hubungan yang diinginkan. Terkadang, dua orang memang tidak memiliki kecocokan yang cukup untuk melanjutkan hubungan.
Menjaga kepercayaan diri setelah mengalami penolakan dapat membantu seseorang kembali membuka diri terhadap kesempatan baru tanpa terus dibayangi pengalaman masa lalu.
5. Pertahankan Jati Diri, Jangan Korbankan Batasan Pribadi
Pelajaran terakhir yang disoroti Bendory adalah pentingnya mempertahankan jati diri ketika menjalin hubungan.
Keinginan untuk mempertahankan pasangan terkadang membuat seseorang memilih diam ketika tidak setuju, mengabaikan kebutuhan pribadi, atau terus mengubah sikap agar tidak mengecewakan orang yang dicintai.
Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang kehilangan ruang untuk mengekspresikan dirinya sendiri.
Padahal, hubungan yang sehat seharusnya memberikan kesempatan kepada kedua pihak untuk menyampaikan pendapat, mengungkapkan kebutuhan, dan menetapkan batasan pribadi.
Mempertahankan hubungan tidak berarti harus selalu mengalah atau mengorbankan hal-hal yang penting bagi diri sendiri. Kompromi memang diperlukan, tetapi keputusan tersebut idealnya dilakukan melalui komunikasi dan kesepakatan bersama.
Seseorang tetap berhak memiliki waktu untuk dirinya sendiri, menjaga hubungan dengan teman dan keluarga, serta menjalankan aktivitas yang disukai.
Pasangan yang saling menghargai juga perlu memahami bahwa setiap individu memiliki kebutuhan dan identitas masing-masing.
Dengan mempertahankan jati diri, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih seimbang tanpa harus terus-menerus merasa takut kehilangan pasangan.
Memilih Pasangan Perlu Realistis dan Tetap Hargai Diri Sendiri
Lima pelajaran dari Sabrina Bendory tersebut menekankan bahwa memilih pasangan bukan sekadar menemukan orang yang membuat hati berbunga-bunga. Seseorang juga perlu menilai perilaku nyata pasangan, memahami keseimbangan dalam hubungan, dan memastikan adanya kecocokan untuk menjalani kehidupan bersama.
Selain itu, penolakan tidak perlu dipandang sebagai kegagalan pribadi. Setiap orang berhak mencari hubungan yang sesuai dengan kebutuhan, nilai, dan tujuan hidupnya.
Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga batasan serta mempertahankan jati diri ketika jatuh cinta. Hubungan yang sehat semestinya memberikan ruang bagi kedua pihak untuk berkembang tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.
Dengan memahami hal-hal tersebut, seseorang dapat mengambil keputusan yang lebih realistis saat berkencan dan membangun hubungan berdasarkan rasa saling menghargai, bukan semata-mata harapan atau ketakutan kehilangan.
Tinggalkan Komentar