Disperindag Bali mendeteksi kenaikan harga pada tujuh komoditas pangan. Jika distribusi tersendat hingga lima hari, stok sejumlah bahan pokok berisiko habis dan harga bisa melonjak 20%.

DENPASAR, Saatini.com — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali mulai memunculkan risiko baru bagi masyarakat. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bali mendeteksi sinyal kenaikan harga sejumlah bahan pangan di pasar tradisional, terutama komoditas yang bergantung pada kelancaran distribusi.

Meski tekanan harga secara umum masih relatif rendah, sejumlah bahan pokok mulai menunjukkan tren kenaikan. Kondisi ini menjadi perhatian karena gangguan transportasi lokal berpotensi menghambat pasokan dari distributor ke pasar.

Kepala Disperindag Bali I Gusti Ngurah Wiryanata mengatakan kenaikan harga memang belum terasa secara luas. Namun, bawang putih mulai menunjukkan pergerakan harga yang perlu diwaspadai.

"Memang sih lonjakan belum terasa, begitu juga bahan pokok penting yang lain, cuma bawang putih ini," ujar Wiryanata saat dikonfirmasi di Denpasar, Kamis.

Harga Bawang Putih Mulai Naik, Tujuh Komoditas Terpantau Bergerak

Berdasarkan analisis dampak kelangkaan BBM yang dirilis melalui portal SiGapura Bali untuk periode 12–13 September, inflasi umum masih berada di bawah 0,1%. Meski demikian, Disperindag Bali menemukan sinyal peringatan dini kenaikan harga pada tujuh dari 20 komoditas pangan yang dipantau.

Kenaikan tersebut terutama terjadi pada komoditas hortikultura yang didatangkan dari luar Bali. Produk-produk ini sangat bergantung pada biaya angkut dan kelancaran transportasi untuk menjaga pasokan di pasar.

Bawang putih mencatat kenaikan harga terbesar dalam daftar komoditas yang dipantau. Harganya naik dari Rp30.000 menjadi Rp30.429.

Sejumlah komoditas lain juga mengalami kenaikan, meskipun dalam persentase yang relatif kecil. Berikut daftar kenaikan harga pangan yang tercatat dalam analisis Disperindag Bali:

  • Bawang putih naik dari Rp30.000 menjadi Rp30.429.
  • Jeruk lokal naik 0,75%.
  • Cabai merah besar naik 0,63%.
  • Bawang merah naik 0,40%.
  • Beras medium I naik 0,13%.
  • Cabai rawit naik 0,10%.
  • Beras premium naik 0,06%.

Pergerakan harga tersebut menjadi sinyal awal yang perlu diperhatikan di tengah kendala pasokan BBM. Jika transportasi lokal terus terganggu, biaya dan waktu pengiriman berpotensi menekan ketersediaan barang di pasar.

Tak Semua Bahan Pokok Naik, Gula dan Telur Justru Turun

Di tengah kenaikan sejumlah komoditas, beberapa bahan pangan justru mengalami penurunan harga. Data Disperindag Bali mencatat gula turun 1,69%, daging babi turun 1,42%, telur ayam ras turun 1,25%, dan minyak goreng turun 0,08%.

Wiryanata menjelaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan pasokan lokal masih mengalami surplus untuk sejumlah komoditas. Dengan demikian, tekanan distribusi BBM belum langsung memicu kenaikan harga secara merata di seluruh kelompok pangan.

Namun, surplus pasokan tidak otomatis menghilangkan risiko apabila distribusi terus tersendat. Neraca stok yang menipis pada komoditas tertentu dapat menjadi titik rawan ketika pasokan baru terlambat tiba.

Stok Cabai Merah Besar Tinggal 2 Ton, Risiko Kehabisan Membayangi

Disperindag Bali menyoroti persediaan beberapa komoditas yang kini berada pada tingkat terbatas. Stok cabai merah besar tercatat hanya 2 ton, cabai rawit 9 ton, bawang putih 12 ton, dan jeruk 14 ton.

Persediaan tersebut menjadi perhatian karena kelancaran distribusi menentukan seberapa cepat pedagang dan pasar dapat menerima pasokan pengganti. Jika hambatan pengiriman berlanjut, stok yang tersedia berisiko terkuras sebelum kiriman berikutnya tiba.

Menurut analisis yang disampaikan Wiryanata, gangguan pasokan selama tiga hingga lima hari ke depan dapat membuat stok terbatas tersebut habis. Dalam kondisi itu, harga pangan berpotensi melonjak hingga 20%.

Risiko tersebut menunjukkan bahwa persoalan BBM tidak hanya menyangkut mobilitas kendaraan, tetapi juga keberlangsungan pasokan kebutuhan sehari-hari. Terutama untuk komoditas yang persediaannya terbatas dan membutuhkan pengiriman rutin.

Distributor dari Jawa Disebut Aman, Masalah Justru di Transportasi Bali

Wiryanata mengatakan pihaknya telah mengonfirmasi kondisi rantai pasok kepada distributor besar. Berdasarkan keterangan yang diterimanya, jalur pasokan dari Jawa dan daerah lain di luar Bali masih berjalan aman.

Namun, persoalan muncul ketika kendaraan logistik tiba di Bali dan harus melanjutkan pengiriman ke berbagai tujuan. Pengemudi truk menghadapi kendala memperoleh BBM, sehingga mobilitas kendaraan pengangkut barang ikut terganggu.

"Rantai pasok dari Jawa dan lain sebagainya atau dari luar Bali aman, kata mereka, berarti transportasi di sana kan aman bisa ke Bali cuma kan dia di sini baru merasakan stres ya karena di sini habis bensinnya lalu kembalinya dia pusing juga," ujar Wiryanata.

Keterangan tersebut memperlihatkan perbedaan antara kelancaran pasokan dari daerah asal dan kemampuan mendistribusikan barang setelah kendaraan tiba di Bali. Dengan kata lain, barang bisa tersedia di jalur antardaerah, tetapi pengiriman ke pasar tetap terhambat jika kendaraan kesulitan mendapatkan bahan bakar.

Kelangkaan BBM juga memengaruhi mobilitas kendaraan operasional dan kendaraan dinas yang bertugas di lapangan. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi upaya menjaga kelancaran distribusi kebutuhan pokok.

Disperindag Bali Waspadai Efek Berantai Jika Gangguan Lewat 7 Hari

Disperindag Bali telah memetakan tiga fase potensi dampak lanjutan apabila gangguan distribusi berlangsung lebih dari tujuh hari. Pemetaan ini menjadi dasar untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya kenaikan harga ke kelompok pangan lainnya.

Pada fase berikutnya, tekanan harga diperkirakan mulai menjalar ke beras dan minyak goreng. Setelah itu, fase ketiga berpotensi memengaruhi komoditas telur dan ayam.

Perluasan tekanan harga tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan pangan masyarakat tidak hanya bergantung pada satu atau dua komoditas. Jika distribusi tersendat dalam waktu lama, gangguan yang awalnya terkonsentrasi pada produk tertentu berpotensi merambah ke bahan pokok lainnya.

Meski demikian, proyeksi tersebut merupakan skenario risiko yang disusun untuk mengantisipasi gangguan berkepanjangan. Dampak akhirnya akan bergantung pada kelancaran distribusi dan kemampuan menjaga ketersediaan stok.

Tiga Langkah Disiapkan untuk Menahan Lonjakan Harga Pangan

Untuk meredam risiko kenaikan harga, Disperindag Bali menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis. Langkah-langkah tersebut berfokus pada kelancaran distribusi, stabilisasi harga komoditas yang rentan, dan pemantauan stok secara rutin.

Pertama, Disperindag Bali merekomendasikan prioritas pasokan BBM bagi truk pengangkut logistik pangan. Kebijakan ini ditujukan untuk membantu kendaraan distribusi tetap beroperasi dan mengirimkan bahan pokok ke pasar.

Kedua, pemerintah daerah direkomendasikan menggelar operasi pasar untuk komoditas cabai dan bawang putih. Kedua komoditas ini menjadi perhatian karena harga mulai naik dan stoknya tercatat terbatas.

Ketiga, Disperindag Bali mendorong pemantauan harian terhadap neraca stok komoditas yang persediaannya berada di bawah 20 ton. Pemantauan tersebut dapat membantu mendeteksi lebih dini potensi kekurangan pasokan sebelum tekanan harga meluas.

Ketiga langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengantisipasi dampak kelangkaan BBM terhadap harga pangan. Fokusnya bukan hanya merespons kenaikan harga yang sudah terjadi, tetapi juga menjaga agar gangguan distribusi tidak berkembang menjadi persoalan pasokan yang lebih besar.

Kelangkaan BBM Jadi Ujian Distribusi Pangan Bali

Perkembangan harga pangan di Bali menunjukkan bahwa gangguan BBM dapat menimbulkan dampak berantai melalui sektor transportasi. Ketika truk logistik kesulitan mendapatkan bahan bakar, pengiriman barang berisiko melambat meskipun pasokan dari luar daerah masih tersedia.

Untuk saat ini, inflasi umum yang tercatat di bawah 0,1% menunjukkan bahwa tekanan harga secara keseluruhan masih terbatas dalam periode analisis tersebut. Namun, kenaikan tujuh komoditas dan menipisnya stok cabai, bawang putih, serta jeruk menjadi sinyal yang perlu diantisipasi.

Disperindag Bali menempatkan kelancaran distribusi dan pemantauan stok sebagai bagian penting dalam mencegah gejolak harga. Jika gangguan BBM dapat segera ditangani, risiko kekosongan barang dan lonjakan harga berpotensi ditekan sebelum menjalar ke lebih banyak kebutuhan pokok. (*)