KRAMATORSK, saatini.com - Eskalasi konflik di Ukraina timur kembali memakan korban jiwa dari kalangan sipil. Pemerintah Ukraina melaporkan sedikitnya 30 orang tewas dan 18 lainnya luka-luka akibat serangan bom udara Rusia yang menghantam sebuah bus penumpang dan area halte di Kota Kramatorsk, Wilayah Donetsk.
Gubernur Donetsk, Vadym Filashkin, mengonfirmasi lonjakan jumlah korban tewas tersebut melalui saluran Telegram resminya dan mengecam tindakan militer Rusia yang dinilai sengaja mengincar infrastruktur publik.
"Mengingat situasi keamanan yang memburuk secara drastis, saya telah memerintahkan otoritas militer di kota Kramatorsk dan Sloviansk untuk menangguhkan operasional transportasi umum," tegas Vadym Filashkin.
Gelombang Serangan Meningkat di Berbagai Wilayah
Tragedi berdarah di Kramatorsk terjadi hanya berselang sehari setelah serangan rudal Rusia menghantam Kota Pryluky di wilayah Chernihiv utara.
Gubernur Chernihiv, Vyacheslav Chaus, mencatat korban tewas di Pryluky meningkat menjadi 22 orang—termasuk lima anak-anak—serta melukai 50 warga lainnya.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa serangan udara Rusia terus menggempur titik-titik krusial di sedikitnya 10 wilayah di Ukraina.
Melalui unggahan di platform X, Zelenskyy kembali mendesak negara-negara sekutu untuk mempercepat pasokan amunisi dan sistem pertahanan udara (air defense).
"Bahkan setelah serangan sebrutal itu, Rusia masih terus menyerang wilayah kami... Pasokan perangkat anti-rudal balistik, amunisi, dan rudal pencegat secara langsung menyelamatkan banyak nyawa setiap harinya," ujar Zelenskyy.
Saling Serang Menggunakan Drone & Rudal
Di tengah gempuran masif tersebut, Angkatan Udara Ukraina mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mengintersepsi dan melumpuhkan 126 dari 142 drone serbu yang diluncurkan oleh militer Rusia.
Sementara itu dari pihak lain, Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko melaporkan tiga orang tewas dan 14 lainnya luka-luka akibat runtunan serangan balasan di wilayahnya.
Aksi saling serang antara Moskow dan Kyiv tercatat kian intensif dalam beberapa bulan terakhir, dengan fokus sasaran meliputi pusat logistik, fasilitas pelabuhan, hingga infrastruktur energi utama kedua belah pihak.
Tinggalkan Komentar