BANYUMAS, saatini.com - Siapa sangka minyak goreng bekas yang kerap dibuang begitu saja kini bernilai jual tinggi?

Kementerian Koperasi resmi menggandeng PT Pertamina (Persero) untuk menyulap minyak jelantah dari dapur masyarakat menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) alias bahan bakar pesawat ramah lingkungan.

Melalui program ini, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) ditunjuk sebagai ujung tombak pengumpul (collector) minyak jelantah.

Skema inovatif ini dihadirkan untuk mendongkrak pendapatan koperasi sekaligus menopang kemandirian energi nasional.

Inisiatif tersebut ditandai lewat penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Menteri Koperasi Ferry Juliantono dan Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri di Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Jawa Tengah, Kamis.

"Seluruh KDKMP yang siap beroperasi akan kita dorong menjadi agen pengumpul minyak jelantah untuk dijual kepada PT Pertamina Patra Niaga, yang selanjutnya diolah menjadi bahan bakar pesawat udara berkelanjutan," ujar Menkop Ferry Juliantono.

Dari Dapur Warga Hingga Kilang Cilacap

Sebagai percontohan (pilot project), empat KDKMP di wilayah Banyumas telah disiapkan sebagai pengumpul perdana. Jelantah yang terkumpul dari warga, UMKM, hingga dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selanjutnya akan dikirim ke Kilang Pertamina Cilacap untuk dimurnikan menjadi avtur.

Skema bagi hasilnya sangat menguntungkan bagi ekonomi desa:

"Jadi ada selisih pendapatan yang bisa dijadikan tambahan pendapatan dari Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih," jelas Ferry.

Misi Lingkungan & Peluang Pasar Global

Langkah ini juga menjadi penyelamat ekosistem yang ampuh. Pasalnya, satu liter limbah minyak goreng yang dibuang sembarangan sanggup merusak hingga satu juta liter pasokan air bersih.

Untuk menyokong permodalan koperasi dalam menyerap jelantah warga, pemerintah menyiapkan kucuran dana bantuan via Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi serta dana Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina.

Menkop optimistis, jika model bisnis sirkular ini berhasil diterapkan secara nasional di seluruh KDKMP, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan avtur hijau dalam negeri, tetapi juga berpeluang besar menjadi eksportir utama bahan bakar penerbangan berkelanjutan di tingkat global.