Bulog Jawa Barat mencatat penyerapan setara beras mencapai 694.947 ton atau 100,7% dari target. Pembelian gabah petani tetap berlanjut hingga akhir 2026

BANDUNG, Saatini.com — Stok beras di Jawa Barat berada dalam kondisi aman menjelang akhir 2026. Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Barat mencatat persediaan beras mencapai 623,9 ribu ton per 22 Oktober 2026, yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga memasuki panen raya 2027 pada Februari mendatang.

Besarnya persediaan tersebut menjadi modal bagi Bulog untuk menjaga ketersediaan beras sekaligus mendukung stabilitas harga pangan. Karena itu, Bulog meminta masyarakat tidak panik atau melakukan pembelian secara berlebihan.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Barat Nurman Susilo menegaskan bahwa persediaan beras di wilayahnya masih mencukupi untuk menghadapi periode akhir tahun hingga persiapan penyerapan hasil panen berikutnya.

"Posisi stok (beras) Jabar secara garis besar, sangat cukup sampai persiapan pengadaan panen raya tahun depan," kata Nurman dalam pesan singkatnya di Bandung, Sabtu.

Bulog Kuasai 623,9 Ribu Ton Beras di Jawa Barat

Berdasarkan data terbaru Bulog Jawa Barat, total stok beras yang dikuasai perusahaan mencapai 623,9 ribu ton hingga 22 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 623,8 ribu ton merupakan beras penugasan pemerintah atau public service obligation (PSO), sedangkan sekitar 107 ton merupakan beras komersial.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh stok beras Bulog Jawa Barat berasal dari beras penugasan pemerintah. Persediaan ini menjadi salah satu penopang upaya menjaga ketersediaan beras di wilayah Jawa Barat.

Dengan stok yang tersedia, Bulog optimistis dapat menghadapi periode menjelang akhir tahun tanpa mengabaikan persiapan menyambut panen raya berikutnya. Meski demikian, perusahaan tetap melanjutkan penyerapan gabah dan beras dari petani lokal.

Gudang Indramayu dan Cirebon Simpan Stok Beras Terbesar

Bulog Jawa Barat menyimpan persediaan beras di gudang yang dikelola delapan kantor cabang. Indramayu dan Cirebon menjadi dua wilayah dengan stok terbesar berdasarkan data yang disampaikan perusahaan.

Berikut rincian stok beras Bulog Jawa Barat di delapan kantor cabang hingga 22 Oktober 2026:

1. Indramayu: sekitar 192,7 ribu ton.

2. Cirebon: sekitar 176,7 ribu ton.

3. Karawang: sekitar 99,7 ribu ton.

4. Subang: sekitar 59,1 ribu ton.

5. Ciamis: sekitar 43,7 ribu ton.

6. Cianjur: sekitar 24,8 ribu ton.

7. Bandung: sekitar 19 ribu ton.

8. Bogor: sekitar 7,9 ribu ton.

Indramayu menempati posisi teratas dengan persediaan sekitar 192,7 ribu ton, disusul Cirebon sebanyak 176,7 ribu ton. Sementara itu, Bogor mencatat stok paling kecil di antara delapan kantor cabang, yakni sekitar 7,9 ribu ton.

Sebaran persediaan tersebut memperlihatkan bahwa stok beras Bulog terkonsentrasi dalam jumlah besar di sejumlah wilayah, terutama Indramayu dan Cirebon. Data ini menjadi gambaran posisi stok yang dikelola Bulog Jawa Barat pada periode pelaporan tersebut.

Bulog Minta Masyarakat Tidak Borong Beras

Di tengah besarnya persediaan beras, Bulog Jawa Barat mengimbau masyarakat agar tidak khawatir terhadap ketersediaan pangan. Perusahaan juga mengingatkan warga untuk menghindari aksi belanja berlebihan yang dipicu kekhawatiran akan kekurangan stok.

"Diharapkan masyarakat tidak panik karena stok cukup," tutur Nurman.

Imbauan tersebut disampaikan karena Bulog menilai persediaan yang dikuasai saat ini memadai untuk menghadapi periode hingga persiapan panen raya tahun depan. Selain menjaga ketersediaan, Bulog tetap melanjutkan penyerapan hasil panen petani untuk mendukung stabilitas harga di tingkat produsen.

Penyerapan Beras Bulog Jabar Tembus 100,7% dari Target

Selain memiliki stok yang besar, Bulog Jawa Barat juga mencatat realisasi penyerapan setara beras mencapai 694.947 ton sepanjang 2026. Jumlah tersebut setara dengan 100,7% dari target yang telah ditetapkan.

Pencapaian itu menunjukkan bahwa realisasi penyerapan telah melampaui sasaran perusahaan. Namun, Bulog tidak menjadikan tercapainya target sebagai alasan untuk menghentikan pembelian gabah dan beras dari petani.

Bulog Jawa Barat justru berkomitmen melanjutkan penyerapan hingga akhir Desember 2026. Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga di tingkat produsen sekaligus mendukung petani lokal di Jawa Barat.

Nurman menegaskan bahwa perusahaan akan tetap menjalankan penyerapan meskipun target tahunan sudah tercapai. Komitmen tersebut juga akan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.

"Meski target telah tercapai, kami akan terus menyerap gabah petani hingga akhir Desember dan melanjutkan komitmen ini pada tahun-tahun berikutnya, khususnya untuk mendukung petani di Jawa Barat," ujar Nurman.

Stok Beras Aman, Penyerapan Petani Tetap Berjalan

Strategi Bulog Jawa Barat tidak hanya berfokus pada ketersediaan beras di gudang, tetapi juga pada keberlanjutan penyerapan hasil panen petani. Dengan cara tersebut, perusahaan berupaya menjaga pasokan sekaligus mendukung stabilitas harga gabah dan beras di tingkat produsen.

Stok 623,9 ribu ton per 22 Oktober 2026 menjadi modal persediaan untuk menghadapi akhir tahun dan masa sebelum panen raya berikutnya. Di sisi lain, realisasi penyerapan sebesar 694.947 ton menunjukkan bahwa Bulog tetap menjalankan pengadaan dalam jumlah besar sepanjang tahun.

Bulog memperkirakan panen raya berikutnya mulai berlangsung pada Februari 2027. Hingga periode tersebut, perusahaan memastikan stok beras Jawa Barat mencukupi sembari terus menyerap gabah petani sampai akhir Desember 2026. (*)