JAKARTA, saatini.com - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menegaskan optimismenya terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang.

Langkah ini ditunjukkan lewat komitmen perseroan dalam melanjutkan aksi pembelian kembali (buyback) saham secara bertahap di pasar keuangan.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa strategi buyback bertahap ini dirancang untuk mengoptimalkan nilai bagi para pemegang saham (shareholder value) dengan tetap mempertimbangkan stabilitas kondisi keuangan internal serta aturan yang berlaku.

“Perseroan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Dhanny dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Dhanny menambahkan, keputusan buyback ini turut memperhitungkan dinamika pasar global yang dinamis, mulai dari ketidakpastian ekonomi, tensi geopolitik, pergerakan harga komoditas, hingga derasnya arus modal yang memicu volatilitas pasar keuangan nasional.

Rekam Jejak Buyback Saham BRI

Komitmen perbankan pelat merah ini dalam menjaga stabilitas harga sahamnya telah berlangsung konsisten dalam beberapa periode terakhir:

  • RUPST 24 Maret 2025: Pemegang saham menyetujui rencana buyback dengan nilai fantastis, yakni sebesar-besarnya Rp3 triliun, baik melalui transaksi di dalam maupun luar bursa efek.
  • Buyback Tahap I (12 Juni – 11 September 2026): Memasuki tahun 2026 di tengah fluktuasi pasar yang signifikan, BRI mengalokasikan dana maksimal Rp500 miliar berdasarkan keterbukaan informasi per 12 Juni 2026.
  • Buyback Tahap II (22 Oktober 2026 – 21 Januari 2027): Melalui keterbukaan informasi per 22 Oktober 2026, perseroan resmi mengumumkan eksekusi tahap II dengan nilai alokasi bertambah hingga sebesar-besarnya Rp1 triliun.

Capaian Kinerja Keuangan 

Aksi buyback bernilai triliunan rupiah ini ditopang penuh oleh pencapaian kinerja finansial yang kuat. Hingga akhir triwulan II 2026, BRI berhasil membukukan perolehan laba bersih sebesar Rp31,2 triliun.

Pertumbuhan kinerja perseroan juga tecermin dari berbagai indikator utama:

  • Total Aset: Melesat 11,7 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp2.352 triliun.
  • Dana Pihak Ketiga (DPK): Tumbuh 6,7 persen YoY mencapai Rp1.581 triliun.
  • Penyaluran Kredit & Pembiayaan: Melonjak 16,2 persen YoY hingga menembus Rp1.646 triliun.

Kinerja mentereng ini kian kokoh berkat fondasi likuiditas dan permodalan yang sangat sehat. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI berada di level 21,5 persen, sementara Loan to Deposit Ratio (LDR) terjaga optimal di angka 90,8 persen.

Kondisi tersebut memberikan ruang gerak yang sangat memadai bagi perseroan untuk terus menjalankan fungsi intermediasi perbankan secara berkelanjutan.

“Dengan fundamental dan permodalan yang kuat, kami optimistis BRI memiliki ruang untuk terus bertumbuh serta memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang,” kata Dhanny.