PROVIDENCE, Seychelles, 2 November 2026 /PRNewswire/ -- Perekonomian negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) akan menyusut tahun ini, dan Asia yang menjadi tujuan bagi sebagian besar minyak dan gas dari kawasan tersebut turut menanggung dampaknya. Kini Bank Dunia memperkirakan output negara-negara GCC akan terkontraksi rata-rata sebesar 4,3% pada tahun 2026, berbeda dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 4,4% yang disampaikan pada bulan Januari, serta 1,3% pada bulan April, setelah perang dengan Iran pecah. Broker Octrado telah merilis analisis baru mengenai perekonomian negara-negara Teluk dengan data makroekonomi terkini, serta menelaah arti kemerosotan tersebut bagi para importir, pasar, dan investor di wilayah Asia.

GCC adalah persatuan politik dan ekonomi dari enam negara Arab di Teluk Persia: Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Sejak perang pecah pada akhir bulan Februari, pelayaran melalui Selat Hormuz hampir terhenti, dan pembicaraan antara Washington serta Teheran mengenai pembukaan kembali selat tersebut masih menemukan jalan buntu. Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati selat, dengan sekitar 80% di antaranya ditujukan ke wilayah Asia. Tiongkok dan India saja menyerap 44% minyak mentah tersebut. Hampir 90% gas alam cair (LNG) yang dikirim melalui Selat Hormuz ditujukan bagi pembeli di wilayah Asia, yang mencakup sekitar 27% dari total impor LNG Asia.

Dampak ekonomi tersebut tidak dirasakan secara merata di seluruh kawasan. Menurut Bank Dunia, ekonomi Qatar akan mengalami kontraksi sebesar 20,9% tahun ini dan ekonomi Kuwait sebesar 14,6%, mengingat kedua negara tersebut hampir sepenuhnya bergantung pada ekspor melalui selat itu. Sementara itu, Bahrain diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 2,9%, Arab Saudi sebesar 2,0%, dan UEA sebesar 1,6%. Oman dengan pelabuhan-pelabuhannya yang ada di luar selat tersebut, merupakan satu-satunya anggota yang diperkirakan akan mengalami pertumbuhan, yakni sebesar 3,1%.

Qatar yang menjadi salah satu eksportir LNG terbesar di dunia, terkena dampak paling parah. QatarEnergy kembali memperpanjang penangguhan pengiriman akibat keadaan kahar (force majeure); para pembeli di Pakistan dan Bangladesh telah diberi tahu bahwa penangguhan ini akan berlangsung hingga akhir bulan November. Harga LNG di Asia berada di dekat level tertinggi sejak akhir 2022, tepat menjelang musim dingin di belahan bumi utara. Minyak mentah Brent ditutup pada harga 104,72 USD per barel pada tanggal 9 Oktober.

Meskipun ada tanda-tanda pemulihan, Octrado menilai bahwa risiko-risiko masih sangat condong ke arah penurunan. Bagi perekonomian di Asia, krisis ini menjadi pengingat betapa besarnya ketergantungan mereka pada satu jalur pelayaran saja. Bahkan setelah perang berakhir, premi risiko yang lebih tinggi untuk kegiatan bisnis di kawasan Teluk kemungkinan akan terus berlanjut, dan para importir di Asia diperkirakan akan terus melakukan diversifikasi pasokan energi mereka. Reputasi kawasan Teluk sebagai tujuan investasi yang aman akan membutuhkan waktu untuk pulih.

Baca artikel lengkapnya di sini.

Octrado adalah perusahaan investasi dinamis yang berlandaskan transparansi, inovasi, dan dukungan bagi para trader profesional.

Kontak: Mohamad Riyadhi Ramlan, [email protected] 

Sumber: PR Newswire Asia